Hijau di Tengah Tambang: Upaya AMMAN Jaga Alam Batu Hijau tetap Hidup

0
608

RATUSAN truk raksasa hilir mudik di pegunungan batu hijau. Matahari Sumbawa Barat membakar kulit para pekerja yang menanam tanpa henti. Bagi mereka, setiap lubang tambang harus berubah jadi hutan.

Inilah warisan yang ingin ditinggalkan oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara. Di tengah ambisi mengeruk perut bumi, AMMAN berupaya meninggalkan jejak hijau, bukan luka.

Tambang Batu Hijau, di kabupaten Sumbawa Barat, NTB, dikelola oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Batu hijau salah satu operasi tambang tembaga-emas terbesar di Indonesia. Aktivitasnya menyentuh berbagai dimensi lingkungan. Dari penambangan terbuka, pengolahan bijih, hingga pembuangan tailing.

Langkah Hijau: Reklamasi dan Pengelolaan Air

Bagi perusahaan tambang, mengembalikan alam seperti semula adalah pekerjaan Panjang,  dan mahal. Hingga akhir 2023, PT Amman telah mereklamasi 718 hektar dari total 3.291 hektar area tambang, serta menanam sekitar 1,53 juta pohon dari 99 spesies lokal. Area yang dulunya gundul kini mulai menampakkan warna hijau muda, dengan burung-burung lokal perlahan kembali hinggap di ranting-ranting muda.

Komposisi dan struktur pohon secara umum lebih baik dari hutan alami. Jumlah pohon pun sudah lebih dari 625 pohon per hektare. Hal ini juga dapat secara langsung dilihat pada salah satu bukit yang bersebelahan langsung dengan area tambang Batu Hijau. Setelah dilakukan reklamasi, kondisi bukit tersebut kini tertutup oleh vegetasi flora endemik seperti binong, ipil (merbau), kayu batu, dao, aren dan rotan. 

“Dulu bukit-bukit ini gundul, cuma batu dan debu,” cerita Muammar Khadafi, tokoh muda Desa Tongo, sambil menunjuk arah lereng yang kini tertutup rumput. “Sekarang sudah mulai kelihatan hijau lagi. Anak-anak Tongo sering main ke sini sore hari,’’ katanya.

Selain penghijauan, Amman juga mengembangkan fasilitas desalinasi air laut dengan kapasitas 256 m³/jam. Langkah ini mengurangi ketergantungan pada air tawar dan memastikan operasi tambang tidak mengganggu sumber air masyarakat. Air adalah sumber kehidupan. Di Sumbawa, pengelolaan air adalah isu serius. ‘’Karena itu kami memprioritaskan teknologi yang efisien dan berkelanjutan,” kata Vice President Social Impact PT AMMAN Priyo Pramono.

Konservasi Pesisir dan Mangrove

Kesadaran ekologis juga merambah pesisir. Pada 2024, AMNT menanam ribuan bibit mangrove di Teluk Benete bersama masyarakat dan pemerintah daerah. Program ini tidak hanya menahan abrasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi lingkungan.

“Kalau dulu kami hanya tahu mangrove itu buat kepiting,” kata Lilies, warga Desa Benete yang menjadi anggota kelompok tani pesisir. “Sekarang kami paham, mangrove juga melindungi kampung dari ombak besar. Anak-anak muda di sini ikut menanam juga, jadi ramai dan seru,” ujarnya.

Anto, seorang warga Desa Labuhan Lalar mengungkapkan,  AMMAN sempat melakukan pembibitan dan penanaman sebanyak 2.000 bibit mangrove di Perumahan Apung Labuhan Lalar, pada 2024 lalu. Pada Februari 2024 sebelumnya telah dilakukan penanaman bibit mangrove sebanyak 3.000 bibit. ‘’Total sudah 5000 bibit yang ditanam hingga saat ini,’’ ujarnya.

Vice President Corporate Communications & Investor Relations, PT Amman Mineral Internasional Tbk Kartika Octaviana mengatakan kegiatan penanaman mangrove  merupakan wujud komitmen AMMAN menjaga kelestarian lingkungan. Hal ini sejalan dengan cita-cita perusahaan dalam mewujudkan keseimbangan antara lingkungan, sosial, dan ekonomi. ‘’Ini untuk menciptakan warisan terbaik bagi generasi mendatang,” ujar Kartika.

Dalam setiap kegiatan pelestarian lingkungan, AMMAN melibatkan masyarakat umum, mitra bisnis, karyawan, dan instansi pemerintah. Hal ini karena pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. 

Menurut data internal perusahaan, kegiatan rehabilitasi pesisir ini mencakup penanaman lebih dari 10.000 bibit mangrove dan pengawasan berkala terhadap daerah aliran sungai (DAS) yang menuju ke laut. Kegiatan ini juga berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan universitas lokal untuk penelitian ekologi.

Livelihood Program: Menanam Ekonomi Baru

AMNT mengembangkan sejumlah program penghidupan alternatif pasca-tambang, seperti pelatihan pertanian organik, budidaya perikanan, hingga pengolahan produk lokal.

Dalam studi Social Return on Investment (SROI) 2024, program pemberdayaan masyarakat di sekitar area reklamasi menunjukkan peningkatan nilai manfaat sosial hingga 105,31 dibandingkan nilai investasi awal.

Pertanian menjadi salah satu denyut nadi kehidupan di Kecamatan Maluk, Benete, dan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat. Namun dalam beberapa dekade terakhir, ketergantungan pada pupuk serta pestisida kimia sintetis menurunkan kesuburan tanah dan produktivitas lahan.

Menanggapi kondisi tersebut, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) meluncurkan ‘Program Pengembangan Pertanian Organik sebagai Penguatan Struktur Nafkah Rumah Tangga Masyarakat Lokal’. Inisiatif ini dirancang untuk menjawab problem mendasar pertanian konvensional sekaligus memperkenalkan pendekatan budidaya yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan bagi petani di sekitar wilayah operasi.

Pelatihan sebagai Titik Awal Perubahan

Sebanyak 35 petani dari Desa Maluk dan Desa Benete–dengan 30% di antaranya adalah perempuan–mengikuti ‘Pelatihan Ekologi Tanah dan Pengelolaan Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan Berkelanjutan’ yang digelar AMMAN bersama Aliksa Organik SRI. 

Pelatihan ini mendorong perubahan pola pikir dari ketergantungan pada pupuk kimia menuju praktik yang mengutamakan ekologi tanah. Peserta diperkenalkan pada peran mikroba dan ekosistem sebagai fondasi pertanian organik yang sehat, mencakup materi tentang ekologi tanah, dampak pestisida, hingga teknik budidaya organik untuk menekan biaya produksi dan mendorong kemandirian ekonomi.

Salah satu peserta program, Siti Maryam, dulunya bekerja sebagai petugas kebersihan di area tambang. Kini ia mengelola kebun sayur di lahan bekas barak bersama kelompok perempuan setempat. “Dulu saya cuma kerja bersih-bersih. Sekarang kami punya lahan dan hasilnya bisa dijual ke koperasi. Perusahaan bantu pelatihan dan bibit. Rasanya beda, lebih bangga karena ini hasil tangan sendiri,” ujarnya dengan senyum lebar.

Sementara itu, terkait dengan limbah tailing, sistem pengolahannya menggunakan metode Deep Sea Tailings Placement (DSTP), yaitu menyalurkan sisa pengolahan ke jurang laut dalam pada kedalaman lebih dari 1.000 meter, di zona tanpa oksigen.

“Teknologi ini dipilih karena kondisi geografi Sumbawa yang memungkinkan dan telah melalui kajian oceanografi serta geoteknik,” kata Priyo Pramono, Vice President Social Impact PT Amman.

Namun ia juga menegaskan bahwa teknologi tidak bisa berdiri sendiri. ‘’Kuncinya adalah pengawasan jangka panjang dan keterlibatan pihak independen dalam pemantauan,” ujarnya.

Namun, tanggung jawab lingkungan di tambang sebesar Batu Hijau tidak berhenti di angka dan laporan. Para akademisi dan LSM masih menyoroti penggunaan DSTP dan dampaknya pada ekosistem laut dalam.

Menurut peneliti kelautan, DSTP secara teoritis aman jika dilakukan di zona anoksik, Tetapi masih banyak ruang penelitian tentang bagaimana material tailing bereaksi dalam jangka puluhan tahun. Perusahaan perlu membuka data monitoring agar publik bisa ikut mengawasi.

Pihak PT Amman menanggapi hal ini dengan komitmen transparansi. “Kami berpegang pada prinsip beyond compliance. Semua hasil pemantauan kualitas air laut, tanah, dan udara rutin kami laporkan ke pemerintah dan publik,” jelas Priyo Pramono. Ia menambahkan bahwa Amman terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk memantau ekosistem sekitar tambang.

Warisan Hijau

Saat matahari tenggelam di perbukitan Batu Hijau, bayangan pepohonan muda menutupi bekas galian tambang. Di kejauhan, suara mesin perlahan tergantikan oleh kicauan burung sore. “Kalau nanti tambang ini sudah berhenti, kami ingin tempat ini tetap hidup,” ujar Imanuddin, warga Benete. “Biar anak cucu tahu, di sini dulu pernah ada tambang, tapi juga pernah ada orang-orang yang menanamnya kembali.”

Bagi PT Amman Mineral, keberlanjutan bukan hanya proyek, tapi komitmen moral. “Tambang tidak akan selamanya, tapi tanggung jawab kami pada alam akan terus berjalan,” kata Priyo menutup pembicaraan.

Ketika truk terakhir meninggalkan Batu Hijau suatu hari nanti, mungkin yang tersisa bukan lubang dan debu, melainkan hutan muda, air yang kembali jernih, dan masyarakat yang tumbuh bersama alamnya. Di situlah, tanggung jawab lingkungan menemukan maknanya yang sejati. (Fajar Rachmat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini