Ketika Teknologi Menjaga Alam

0
168

Bagaimana Inovasi Digital Membantu PT AMMAN Memitigasi Dampak Lingkungan di Batu Hijau

Ruang pemantauan digital AMMAN, di area tambang batu hijau, Sumbawa Barat, NTB.

Penulis: Fajar Rachmat

Saya merasa excited bisa berkunjung ke area tambang batu hijau di Kabupaten Sumbawa Barat. Saya diarahkan oleh Tim Corporate Communication AMMAN masuk ke area tambang batu hijau melalui gate di terminal Benete, Kecamatan Maluk. Berkeliling seharian penuh. Kemudian keluar melalui gate di Kecamatan Sekongkang. Memang, aktifitas pertambangan di perbukitan batu hijau terbentang dari Kecamatan Maluk hingga Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat.

Sepanjang perjalanan di dalam area, Vice Presiden Corporate Communication AMMAN Kartika Octaviana membawa Saya melihat-lihat aktifitas pertambangan. Truk-truk berukuran raksasa masih mengangkut batuan dari perut bumi. Alat berat bekerja sepanjang hari. Sementara pabrik pengolahan memisahkan mineral berharga dari batuan induknya. Semua aktifitas ini tidak lama lagi akan berhenti. Di tahun 2030 mendatang AMMAN akan memulai ekspoitasi ke Dodo-Rinti, wilayah Kabupaten Sumbawa. Di masa-masa akhir aktifitas penambangan ini, ada banyak hal yang perlu diketahui.

Yang menarik, di balik deru mesin dan aktivitas produksi, ada pekerjaan lain yang nyaris tak terdengar. Ada pekerjaan yang justru tidak menghasilkan tembaga atau emas. Tetapi justru berusaha memastikan bahwa tanah tetap mampu ditumbuhi vegetasi. Memastikan satwa liar kembali ke habitatnya. Memastikan air tetap terjaga kualitasnya, dan bentang alam dapat pulih secara bertahap. Pekerjaan ini tidak hanya mengandalkan tenaga manusia, melainkan juga kecanggihan teknologi.

Kartika mengungkapkan, di era pertambangan modern, keberhasilan sebuah perusahaan tidak lagi hanya diukur dari berapa juta ton material berhasil diproduksi. Ukurannya semakin bergeser pada seberapa besar kemampuan perusahaan meminimalkan jejak ekologis yang ditinggalkannya. Di titik inilah PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) menjadikan inovasi dan teknologi sebagai bagian penting dari strategi mitigasi lingkungan di kawasan tambang Batu Hijau.

Memantau ribuan hektare kawasan reklamasi secara manual bukan pekerjaan mudah. Vegetasi tumbuh setiap hari, lereng mengalami perubahan, sementara kondisi cuaca dapat memengaruhi keberhasilan rehabilitasi lahan.

Dahulu, pemantauan dilakukan melalui survei lapangan yang memerlukan waktu panjang dan sumber daya besar. Kini, pendekatan tersebut dilengkapi dengan teknologi citra satelit dan pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

Drone diterbangkan secara berkala untuk memotret kawasan reklamasi dari udara dengan resolusi tinggi. Setiap penerbangan menghasilkan ribuan gambar yang kemudian disusun menjadi peta digital tiga dimensi. Dari peta tersebut, tim lingkungan dapat melihat perkembangan tutupan vegetasi, perubahan kontur tanah, hingga mendeteksi potensi longsor atau erosi jauh lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

Keunggulan lain terletak pada konsistensi data. Karena diterbangkan pada koordinat yang sama dalam interval waktu tertentu, drone mampu menunjukkan perubahan kondisi lahan dari bulan ke bulan secara presisi.

Sementara itu, citra satelit memberikan gambaran yang lebih luas terhadap seluruh bentang kawasan tambang dan wilayah rehabilitasi. Kombinasi kedua teknologi tersebut memungkinkan proses pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan data spasial yang akurat, bukan sekadar pengamatan visual.

Di ruang kendali, bentang alam Batu Hijau kini tidak hanya dipantau melalui mata manusia, tetapi juga melalui ribuan piksel yang terus diperbarui dari langit.

Membaca Warna Hijau dengan NDVI

Hingga akhir tahun 2025 lalu, AMMAN telah mereklamasi lahan seluas 859,61 hektare. Capaian ini merupakan reklamasi tahunan terbesar dalam sejarah operasional Batu Hijau yang mencapai 92,67 hektare pada akhir tahun 2025.

Head of Environment Department PT Amman Mineral Internasional Tbk, Jorina Waworuntu, mengatakan komitmen lingkungan di AMMAN berangkat dari prinsip kepatuhan yang menjadi fondasi operasional perusahaan. Menurutnya, kepatuhan tidak hanya dimaknai sebagai pemenuhan regulasi, tetapi juga sebagai dasar dalam membangun praktik pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

‘’Menanam pohon adalah pekerjaan yang relatif mudah. Namun memastikan pohon itu tumbuh sehat, membentuk ekosistem yang stabil, dan memiliki fungsi ekologis menyerupai hutan alami merupakan tantangan yang jauh lebih besar,’’  kata Jorina.

Sementara itu, Senior Manager Corpoorate Communication AMMAN Dinar Puja Ginanjar mengatakan, untuk mengukur keberhasilan progam yang dijalankan, AMMAN memanfaatkan teknologi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), sebuah metode analisis vegetasi berbasis pantulan cahaya inframerah.

“Kami menggunakan pendekatan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk menentukan jenis tanaman yang cocok ditanam. Melalui analisis NDVI, diperoleh nilai NDVI +1 atau mendekati hutan alami. Ini berarti, kami berhasil mengubah lahan bekas tambang menjadi sebuah oasis hijau,” kata Dinar

Hal ini juga dapat secara langsung dilihat pada salah satu bukit yang bersebelahan langsung dengan area tambang Batu Hijau. Setelah dilakukan reklamasi, kondisi bukit tersebut kini tertutup oleh vegetasi flora endemik seperti binong, ipil (merbau), kayu batu, dao, aren dan rotan. 

Bagi mata manusia, kawasan reklamasi mungkin terlihat sama-sama hijau. Tetapi bagi sensor NDVI, setiap warna hijau memiliki makna berbeda. Sensor tersebut mampu membaca kadar klorofil tanaman, tingkat kesehatan vegetasi, kepadatan tajuk, hingga kemampuan tumbuhan menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Semakin tinggi nilai NDVI, semakin baik kondisi vegetasi.

Data inilah yang kemudian menjadi dasar evaluasi keberhasilan reklamasi. Area dengan nilai rendah dapat segera diidentifikasi untuk mendapatkan perlakuan tambahan, baik berupa penanaman ulang, perbaikan media tanam, maupun pengelolaan air.

Pendekatan ini membuat reklamasi tidak lagi hanya berorientasi pada jumlah pohon yang ditanam, melainkan pada kualitas ekosistem yang terbentuk. ‘’Target akhirnya bukan sekadar menghijaukan lahan bekas tambang, tetapi mengembalikan fungsi ekologisnya sedekat mungkin dengan kondisi hutan alami,’’ kata Dinar.

Keberhasilan reklamasi AMMAN bukan hanya estetika semata, tapi juga memberikan manfaat ekologis, seperti meningkatkan kualitas udara dan air, menciptakan habitat bagi flora dan fauna, serta mencegah erosi dan sedimentasi. Hal ini juga sesuai dengan kepatuhan terkait Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik dan juga surat edaran ESDM tentang Basisdata Spasial Reklamasi dan Pascatambang.

Dampak positif reklamasi AMMAN pun terasa secara ekonomi dan sosial, seperti meningkatkan nilai ekonomi lahan, mendukung pengembangan pariwisata ekologi, dan menciptakan peluang kerja bagi masyarakat melalui penyediaan bibit dan material untuk revegetasi seperti ijuk, coconet, dan polybag. Di sisi lain, seiring dengan semakin bertambahnya luas reklamasi tiap tahunnya, jumlah serapan tenaga kerja pun semakin meningkat, khususnya bagi masyarakat sekitar lingkar tambang.

“Dalam melakukan aktivitas pertambangan AMMAN senantiasa mengutamakan prinsip-prinsip berkelanjutan sebagai bagian penting dari strategi bisnis kami. Upaya kami menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya alam dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan, dan sekaligus menjadi langkah konkret kami menuju visi kami untuk menciptakan warisan terbaik bagi masa depan,” tutup Dinar.

Mengubah Cara Meledakkan Batu

Selain melakukan reklamasi dengan tekhnologi, AMMAN juga mengubah cara meledakkan batu. Peledakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan pertambangan terbuka. Di masa lalu, peledakan sering dikaitkan dengan getaran tinggi, suara keras, serta debu yang beterbangan. Perkembangan teknologi kini mengubah paradigma tersebut.

AMMAN menerapkan teknologi 4D Blasting, yaitu sistem peledakan presisi yang dirancang untuk menghasilkan fragmentasi batuan secara optimal dengan dampak lingkungan yang lebih terkendali. Teknologi ini mengintegrasikan desain peledakan berbasis pemodelan digital, pengaturan waktu ledakan yang sangat presisi, serta analisis geologi secara detail.

Setiap lubang peledakan dihitung sedemikian rupa agar energi ledakan benar-benar digunakan untuk memecah batuan, bukan terbuang menjadi getaran berlebihan. Hasilnya adalah fragmentasi batuan yang lebih seragam sehingga proses penghancuran di pabrik menjadi lebih efisien.

“Kami berkomitmen untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam setiap proses produksi, salah satunya melalui berbagai inovasi teknologi, sejalan dengan kaidah pertambangan yang baik dan peningkatan kinerja bisnis,” ujar Kartika Octaviana. 

Di sisi lain, tingkat getaran tanah dapat ditekan, sebaran debu berkurang, dan potensi gangguan terhadap lingkungan sekitar ikut diminimalkan. Dengan kata lain, teknologi peledakan kini bukan lagi sekadar mengejar produktivitas, tetapi juga menjadi instrumen mitigasi dampak lingkungan.

Setelah batuan diledakkan, material berharga diangkut dengan efisiensi tinggi. Manajemen stockpile bijih, didukung oleh teknologi survei laser scanner, memastikan setiap ton material ditangani dengan cermat, meminimalkan kehilangan dan memaksimalkan produktivitas.

Setelah batuan dihancurkan dan diangkut, tahap selanjutnya adalah pemrosesan untuk memisahkan logam berharga dari material lainnya Di sinilah teknologi Froth Crowder memainkan peran penting. Dengan meningkatkan laju pengangkutan buih dan penarikan massa, teknologi ini mampu meningkatkan recovery tembaga secara signifikan.

Di fasilitas smelter, berbagai teknologi mutakhir diterapkan untuk memproses konsentrat menjadi katoda tembaga berkualitas tinggi. Salah satunya adalah penggunaan teknologi Double Flash Smelting, yaitu proses peleburan tembaga dalam dua tahap dengan oksigen dan gas alam untuk mendapatkan tembaga dengan kemurnian tinggi. Sebuah proses yang menggabungkan presisi, inovasi, dan kekuatan teknologi.

AI untuk Mengurangi Limbah

Transformasi digital di Batu Hijau tidak berhenti pada pemantauan lapangan. Di dalam fasilitas pengolahan mineral, kecerdasan buatan mulai memainkan peran penting melalui sistem Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA). AIDA bekerja dengan memanfaatkan data operasional historis dalam jumlah sangat besar.

Data tersebut dipadukan dengan kondisi proses yang sedang berlangsung secara real-time untuk menghasilkan rekomendasi pengaturan operasi yang lebih optimal.

Sebagai salah satu perusahaan tambang tembaga dan emas terbesar di Indonesia, AMMAN memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengoptimalkan perolehan mineral (mineral recovery) dalam proses pengolahan bijih. Langkah ini dilakukan di tengah karakteristik bijih yang semakin kompleks serta meningkatnya kebutuhan efisiensi dan pemanfaatan sumber daya alam secara optimal. Setiap ton bijih yang ditambang menyimpan mineral berharga. Namun, tidak seluruh mineral tersebut berhasil dipulihkan selama proses pengolahan.

Di industri pertambangan, peningkatan kecil dalam tingkat mineral recovery dapat memberikan nilai ekonomi yang besar sekaligus mengurangi mineral berharga yang terbuang ke tailings.

Vice President Corporate Communications Amman Kartika Octaviana mengatakan, pengembangan Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA) menjadi bagian dari transformasi digital perusahaan dalam membangun operasi pertambangan yang semakin cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

“AIDA mencerminkan budaya Amman yang selalu terdorong untuk terus menjadi lebih baik. Melalui transformasi digital, kami tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat komitmen terhadap konservasi sumber daya mineral,” ujar Kartika.

Menurutnya, keberhasilan inisiatif ini bukan hanya terletak pada teknologinya, melainkan pada sinergi antara data, inovasi, dan keahlian tim. Ketika teknologi dan pengalaman manusia berjalan beriringan, perusahaan mampu menghasilkan keputusan yang lebih baik dan menciptakan nilai yang lebih besar.

Melalui algoritma pembelajaran mesin (machine learning), sistem mampu mengenali pola-pola yang sulit dideteksi manusia. Perubahan kecil pada parameter operasi dapat segera diketahui sebelum berkembang menjadi penurunan kinerja.

Dampaknya tidak hanya berupa peningkatan mineral recovery, tetapi juga penggunaan energi yang lebih efisien, konsumsi bahan kimia yang lebih terkendali, serta berkurangnya material yang terbuang sebagai limbah.

Dalam konteks lingkungan, setiap peningkatan efisiensi berarti semakin sedikit sumber daya yang harus dieksploitasi untuk menghasilkan jumlah mineral yang sama.

Inilah salah satu wajah baru pertambangan modern. Artificial Intelligence tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membantu menekan jejak ekologis kegiatan operasi.

Data Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan

Benang merah dari seluruh inovasi tersebut adalah satu hal: keputusan lingkungan tidak lagi dibuat berdasarkan asumsi. Drone menghasilkan peta. Satelit menyediakan citra berkala. NDVI mengukur kesehatan vegetasi. Camera trap mendokumentasikan satwa liar. Sensor operasional mengirimkan data setiap detik. Artificial Intelligence mengolah jutaan parameter.

Semua informasi itu bertemu dalam proses pengambilan keputusan yang semakin berbasis bukti (evidence-based decision making). Pendekatan ini memungkinkan potensi masalah dideteksi lebih dini, sehingga tindakan korektif dapat dilakukan sebelum dampaknya membesar.

Mitigasi lingkungan akhirnya berubah dari pola reaktif menjadi preventif. Bukan lagi menunggu kerusakan terjadi, tetapi berusaha mencegahnya sejak awal. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini