Membedakan Berita dan Sekadar Kejadian: Bijak dalam Menyikapi Informasi di Era Digital

0
617

Oleh: I Made Widiarta, S.Komp.,M.M

Dalam zaman digital yang terus maju, data tersebar dengan cepat melalui berbagai saluran media sosial. Salah satu fenomena yang baru-baru ini terjadi adalah viralnya sebuah peristiwa setelah dibagikan kembali oleh seorang influencer. Namun, sebagai komunitas yang pintar, kita perlu dapat membedakan antara berita yang sah dan sekadar peristiwa yang disebarluaskan kembali. 

Apa yang membedakan Berita dan Kejadian? 

Berita mengacu pada buku Rambu-Rambu Jurnalistik (Cara Menulis Berita yang Menarik) (2020) oleh Bagus Samsito Edi Wahono, yang menyebutkan bahwa istilah berita berasal dari bahasa Sanskerta, vrit. Ada juga yang menyebutnya vritta, yang berarti peristiwa atau sesuatu yang sudah terjadi. Secara umum, berita dapat diartikan sebagai laporan mengenai fakta atau gagasan terbaru yang menarik, akurat, atau signifikan bagi banyak orang (Putri V. K., 2022). Informasi yang baik dan bermanfaat pastinya memiliki beberapa elemen di dalamnya. Secara umum, sebuah berita biasanya memiliki 6 unsur yang dikenal dengan istilah 5W + 1H. Yakni terdiri dari apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana. 

Kejadian yang Diterbitkan hanyalah peristiwa yang diposting oleh orang lain, sering kali tanpa penjelasan yang jelas, tanpa pemeriksaan dari sumber yang dapat dipercaya, dan terkadang bersifat subjektif atau sekadar berdasarkan pandangan. 

Mengapa Perlu Berwaspada? 

Kita perlu waspada dalam merespon informasi yang beredar di media sosial serta platform digital lainnya. Data yang belum diverifikasi dapat menyesatkan dan menyebabkan efek buruk, seperti kesalahpahaman atau kepanikan di masyarakat. Banyak peristiwa yang hanya di-share kembali tanpa adanya proses pengecekan yang jelas, sehingga rentan dianggap sebagai informasi yang sah padahal belum tentu akurat. Kesalahan dalam menginterpretasikan sebuah peristiwa sebagai berita yang valid dapat menimbulkan reaksi yang berlebihan di masyarakat, baik berupa opini yang tidak beralasan maupun tindakan yang merugikan pihak tertentu. Oleh sebab itu, menjamin kevalidan suatu informasi sebelum mempercayai atau membagikannya merupakan langkah krusial dalam menjaga ketertiban informasi di ruang publik. 

Selain itu, sikap skeptis terhadap informasi juga dapat membantu menghindari penyebaran hoaks yang sering kali dimulai dari peristiwa yang direkayasa atau diputarbalikkan faktanya agar tampak sebagai berita yang sah. Banyak berita palsu yang sengaja dibuat untuk mempengaruhi pandangan masyarakat, mengarahkan narasi tertentu, atau bahkan memiliki tujuan politik dan ekonomi. Sehingga, masyarakat harus menyadari bahwa tidak semua informasi yang ramai beredar berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Influencer, contohnya, bukanlah wartawan yang terikat oleh kode etik jurnalistik, sehingga informasi yang mereka sampaikan sering kali berlandaskan pada kepentingan pribadi atau strategi keterlibatan di media sosial. Oleh karena itu, kita perlu lebih cermat dalam menerima informasi dan selalu merujuk pada sumber-sumber yang resmi agar tidak terperangkap dalam informasi yang salah. 

Bagaimana Cara Membedakannya? 

Tahap awal dalam membedakan antara berita yang sah dan sekadar peristiwa yang dibagikan adalah dengan mengecek sumbernya. Informasi yang diperoleh dari sumber terpercaya biasanya telah melewati proses verifikasi dan disusun berdasarkan prinsip jurnalistik. Di sisi lain, postingan seseorang di media sosial sering kali hanya berasal dari pengalaman pribadi atau sekadar pendapat tanpa adanya verifikasi lebih lanjut. Oleh sebab itu, sebelum Anda mempercayai informasi, pastikan ada pernyataan atau penjelasan dari otoritas yang relevan tentang kejadian itu. 

Di samping itu, perhatikan pula cara penyampaian informasi itu. Informasi positif seharusnya disampaikan dengan cara yang netral dan tidak memihak. Apabila suatu informasi disampaikan dengan emosi yang kuat atau hanya menampilkan satu perspektif, kemungkinan informasi tersebut tidak bersifat obyektif. Periksa pula apakah terdapat data pendukung yang meneguhkan isi berita atau sekadar merupakan opini pribadi tanpa dasar yang jelas. Informasi yang dapat dipercaya umumnya menyertakan sumber data yang dapat ditelusuri oleh pembaca. 

Membandingkan data dengan sumber lain juga merupakan langkah krusial untuk menjamin kebenaran berita. Apabila suatu informasi valid, umumnya akan diliput oleh berbagai saluran media resmi yang memiliki reputasi tinggi. Jangan cepat percaya hanya karena suatu informasi sering dibagikan atau menjadi viral di media sosial. Kepopuleran sebuah informasi tidak selalu mencerminkan kebenaran, karena sering kali terjadi peristiwa yang dilebih-lebihkan atau bahkan dipalsukan untuk menarik perhatian masyarakat. 

Akhirnya, gunakan nalar sehat dalam mengevaluasi suatu informasi. Apabila suatu berita terasa terlalu dramatis atau memiliki elemen yang mencurigakan, lebih baik jangan langsung yakin. Usahakan untuk menemukan sumber lain yang dapat memberikan perspektif yang lebih menyeluruh dan netral. Pendekatan kritis terhadap informasi akan membantu mencegah kesalahan pengertian dan melindungi dari penyebaran hoaks yang bisa merugikan banyak orang. 

Sebagai komunitas digital yang cerdas, kita perlu hati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi. Hindari menjadi bagian dari siklus penyebaran hoaks atau informasi palsu hanya karena terpengaruh oleh viralitas. Bijak dalam menanggapi informasi merupakan langkah pertama untuk membangun ekosistem digital yang positif dan bertanggung jawab. 

Profil Penulis, .

I Made Widiarta, S.Komp., M.M. Penggiat IT dan Literasi Dgital di Sumbawa. Bekerja sebagai Kepala IT di UTS dan PT. Jaringan Nusantara Samota (NetHome). Aktif di berbagai Non Government Organization (NGO) seperti Ketua Relawan TIK Kab. Sumbawa, Ketua Harian Esports Sumbawa, Ketua Lembaga Sumbawa Digital Akademi. Owner startup Sumbawa Hosting dan Sumbawa Digital Marketing.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini