AMMAN Gelar Literasi AI di Sumbawa

0
169
Perwakilan AMMAN menyerahkan cinderamata kepada pihak UTS yang diwakili Sekretaris UTS.

PT AMMAN menyadari penting penguasaan Artificial Intelegence atau AI saat ini. Tentu karena bisa membantu manusia dalam mempercepat pekerjaannya. Namun demikian, penggunaan AI harus dengan bijak. Untuk itu AMMAN menggelar pelatihan Literasi AI bagi mahasiswa dan dosen di Universitas Teknologi Sumbawa, Rabu (12/8/26).

Program ini bernama AI Ready ASEAN. Program ini sebenarnya adalah inisiatif literasi kecerdasan buatan (AI) yang digagas dan didanai secara global oleh Google.org. Di wilayah regional ASEAN, inisiatif ini dimandatkan kepada ASEAN Foundation.

Diluncurkan pada Oktober 2024, program ini menargetkan pembekalan keterampilan dasar AI bagi 5,5 juta masyarakat di sepuluh negara anggota ASEAN. Sasaran utama generasi muda, pendidik, orang tua, dan komunitas yang selama ini kurang terlayani akses teknologi.

Di Indonesia, program ini dijalankan Kaizen Collaborative Impact sebagai mitra pelaksana lokal. Hingga pertengahan 2026 telah menjangkau lebih dari 100 institusi pendidikan di berbagai provinsi, mulai dari Sulawesi hingga Papua Barat.

PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) berhasil berkolaborasi dan membawa akses dan kapasitas AI berstandar regional ASEAN ke Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui kerjasama dengan organisasi dan institusi internasional seperti ASEAN Foundation dan Google.org.

Pelaksanaan Program AI Ready ASEAN di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) pada Rabu hingga Kamis 12–13 Agustus 2026. Ini merupakan buah dari komitmen kuat kerjasama antara dunia industri dengan dunia akademis yang telah dijalin oleh AMMAN dan UTS demi meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di NTB.

Pelatihan di UTS mengikuti kurikulum AI Ready ASEAN yang terbagi ke dalam empat kategori kompetensi: AI Fundamental (pengenalan konsep dan ragam AI), AI Usage & Implementation (teknik prompting untuk efektivitas dan produktivitas dalam penggunaan AI), Scam Ready ASEAN & Digital Safety (literasi anti-hoaks dan keamanan data), serta Ethics and Privacy in AI Use (etika dan hak cipta).

Sebagai keberlanjutan, ASEAN Foundation melakukan serah terima modul pelatihan dan dilanjutkan dengan Training of Trainers (ToT) kepada perwakilan UTS, agar literasi dan kesiapan AI dapat terus ditingkatkan dan semakin dipergunakan secara bijak.

Pantauan media ini, awalnya peserta menjalani pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman sebelum dan sesudah pelatihan.

Dukungan AMMAN terhadap program ini merupakan bagian dari pilar Human Capital Development dalam PPM AMMAN, yang berfokus pada pemerataan akses pendidikan dan kesiapan kerja masyarakat sekitar wilayah operasional AMMAN di Sumbawa.

Sebanyak 100 mahasiswa dan dosen Universitas Teknologi Sumbawa sebagai peserta program mengikuti pelatihan literasi kecerdasan buatan dengan kurikulum yang sama dengan yang dipakai di sepuluh negara ASEAN lainnya.

Sebuah program yang menghubungkan kampus teknik di Pulau Sumbawa dengan inisiatif regional ASEAN Foundation, Google.org, dan dukungan AMMAN sebagai mitra pengembangan SDM di NTB.

Di kesempatan yang sama pada acara pembukaan pelatihan juga dilakukan tanda tangan Kesepakatan Bersama antara AMMAN dan UTS Tentang Kerja Sama Program pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat dan kemahasiswaan.

Kehadiran AI Ready ASEAN di UTS menjadi langkah untuk memperluas akses literasi AI hingga ke Pulau Sumbawa. Materi pelatihan diberikan dalam empat sesi utama. Peserta terlebih dahulu diperkenalkan dengan AI Fundamental, meliputi konsep dasar, cara kerja, manfaat, hingga batasan teknologi AI.

Materi berikutnya adalah AI Usage & Implementation, yang membekali peserta dengan keterampilan menggunakan AI secara efektif, termasuk teknik prompting untuk membantu meningkatkan produktivitas.

Pada sesi lainnya, peserta mendapatkan materi Scam Ready ASEAN & Digital Safety yang berkaitan dengan keamanan digital, anti-hoaks, dan perlindungan data. Sementara materi Ethics and Privacy in AI Use membahas etika penggunaan AI, privasi, serta persoalan hak cipta.

Materi ini disampaikan langsung oleh para Trainer Kaizen yakni Rizki Ayu Febriana, ⁠Rizqika Alya Anwar dan ⁠Gita Pratiwi.

Aji Suryanto, Senior Manager Social Impact AMMAN, mengatakan literasi AI menjadi kebutuhan karena teknologi tersebut kini sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, termasuk mahasiswa dan tenaga pendidik.

Menurutnya, AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan, bukan membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

AI untuk membantu manusia, bukan untuk menggantikan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga kemampuan manusia dalam berpikir kritis, kreatif, dan memecahkan masalah meski pekerjaan sehari-hari semakin banyak dibantu teknologi AI.

“Jangan sampai kita semakin tergantung dengan AI sehingga menganggap AI bukan lagi asisten yang membantu kita, tetapi kita betul-betul bergantung kepada AI,” katanya.

Aji menjelaskan, AMMAN tidak ingin pelatihan berhenti pada kegiatan dua hari di UTS. Program tersebut akan dilanjutkan dengan skema Training of Trainers (ToT) sehingga pengetahuan yang diperoleh peserta dapat ditularkan lebih luas.

Program AI Ready ASEAN di NTB sendiri direncanakan berlangsung di tiga perguruan tinggi. UTS menjadi lokasi pembuka, kemudian dilanjutkan di Universitas Undova di Kabupaten Sumbawa Barat dan ditutup di Universitas Mataram (Unram).

Pelatihan ini tidak berhenti di workshop ini saja. Kami juga melakukan training of trainer agar literasi ini bisa diperluas ke masyarakat dan sekolah-sekolah sekitar,” jelasnya.

Selain ToT, pada kegiatan tersebut dilakukan serah terima modul pelatihan kepada UTS. Selanjutnya, pihak universitas akan menunjuk perwakilan sebagai master trainer yang diharapkan dapat menyusun program lanjutan dan menyebarluaskan pemahaman mengenai AI di lingkungan kampus maupun masyarakat.

Aji mengatakan kolaborasi dengan ASEAN Foundation juga membuka peluang lebih luas bagi perguruan tinggi lokal untuk terhubung dengan berbagai program berskala global.

Program yang diluncurkan pada Oktober 2024 itu menargetkan pembekalan keterampilan dasar AI kepada 5,5 juta masyarakat di 10 negara anggota ASEAN.

Aji menambahkan, pemanfaatan AI juga mulai dikembangkan di lingkungan AMMAN sebagai bagian dari transformasi digital perusahaan.

Menurut dia, AMMAN kini tidak hanya bergerak pada aktivitas pertambangan, tetapi telah mengintegrasikan berbagai proses dari hulu hingga hilir. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan teknologi, termasuk AI, semakin penting dalam pengelolaan data dan pengambilan keputusan.

Menurut Rizqika, program AI Ready ASEAN lahir dari keresahan terhadap semakin masifnya penggunaan AI, sementara pemahaman masyarakat mengenai batasan dan risiko teknologi tersebut belum merata.

“Harapannya, 5,5 juta masyarakat di ASEAN bisa lebih terliterasi dan menggunakan AI secara bertanggung jawab dan bijak,” katanya.

Khusus pelatihan di UTS, materi diberikan selama dua hari dalam empat sesi. Selain pemahaman fundamental dan keterampilan penggunaan AI, peserta juga dikenalkan dengan sejumlah perangkat AI yang dapat dimanfaatkan civitas akademika. Hari kedua difokuskan pada etika penggunaan AI, keamanan digital, serta materi Scam Ready ASEAN.

Rizqika mengatakan pemahaman mengenai AI tidak cukup hanya sebatas kemampuan memberikan perintah atau prompt kepada teknologi tersebut. Masyarakat juga perlu memahami tanggung jawab serta perkembangan AI yang kini mulai mengarah pada penggunaan AI agent.

“AI bukan hanya bisa menjadi asisten, tetapi sekarang juga bisa menjadi AI agent yang dapat melakukan pekerjaan secara otomatis. Karena itu, pemahaman fundamental dan tanggung jawab dalam menggunakan AI menjadi penting,” jelasnya.

Rektor UTS yang diwakili Wakil Rektor IV UTS, Muhammad Iqbal, M.M.Inov, menyambut baik pelaksanaan AI Ready ASEAN di lingkungan kampus. Menurutnya, kehadiran program tersebut menjadi momentum penting bagi civitas akademika UTS untuk memahami perkembangan AI sekaligus meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkannya secara tepat.

Ia menilai perkembangan AI harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta pemahaman terhadap etika dan keamanan digital. Dengan demikian, mahasiswa maupun dosen tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkan AI sebagai alat untuk mendukung proses pembelajaran, penelitian, maupun pengembangan inovasi.

Iqbal Sanggo, sapaan akrabnya, berharap kerja sama UTS dengan AMMAN, ASEAN Foundation, dan para mitra lainnya dapat terus berkembang sehingga manfaat literasi AI tidak hanya dirasakan oleh 100 peserta pelatihan, tetapi dapat diteruskan kepada civitas akademika dan masyarakat yang lebih luas.

Ia juga menilai program Training of Trainers (ToT) menjadi langkah strategis untuk memastikan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat dikembangkan secara berkelanjutan di lingkungan UTS. (jar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini