Bebas dari Tekanan Deadline, Datang Tekanan dari Arena

0
166
Gubernur NTB yang diwakili Kadiskominfotik Ahsanul Khalik, didampingi pejabat yang mewakili Wali Kota Mataram, Ketua PWI NTB Ikliliuddin dan Pembantu Rektor Unram memukul gendang beleq sebagai tanda dimulainya Porwada NTB 2026.

Suasana Jumat sore di Sport Center Universitas Mataram lebih ramai dari biasanya. Tampak ratusan wartawan berkumpul memenuhi lapangan Sport Center Unram. Apakah ada peristiwa penting yang akan diliput?

Benar. Peristiwa penting, iya. Untuk diliput juga iya. Tapi bukan tentang pihak lain yang menjadi obyek berita. Tapi tentang mereka sendiri. Mereka akan beradu kekuatan dan beradu ketangkasan di lapangan, beradu kecepatan di lintasan.

Ya, Sebanyak 180 wartawan dari 8 PWI perwakilan Kabupaten Kota se-NTB ini sedang mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwada) se-Provinsi Nusa Tenggara Barat 2026. Di arena inilah mampu menghadirkan wajah lain dunia jurnalistik. 

Tidak ada tas kamera, ransel, atau buku catatan, yang mereka tenteng. Tidak juga mengenakan seragam media masing-masing. Tapi kali ini yang terlihat justru mereka menenteng raket, sepatu lari, bola.

Dan mereka mengenakan kaus olahraga. Nama PWI kabupaten/kota tertera di baju kausnya. Mereka datang bukan untuk meliput. Mereka datang untuk bertanding.

Selama tiga hari, 26–28 Juni 2026 mereka terbebas dari tekanan deadline. Terbebas dari tekanan harus kejar narasumber. Tapi kini tekanannya berbeda. Ditekan harus menjadi yang terkuat di lapangan. Harus menjadi yang tercepat di lintasan. Harus juara.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendukung kegiatan para kuli tinta ini. Gubernur NTB Muhammad Iqbal yang diwakili oleh Kadiskominfotik Ahsanul Khalik membuka secara resmi. Gubernur menegaskan bahwa Pekan Olahraga Wartawan Daerah (PORWADA) PWI NTB 2026 bukan sekadar ajang kompetisi olahraga, tetapi momentum untuk memperkuat solidaritas, integritas, dan profesionalisme insan pers. 

Melalui semangat sportivitas, Porwada diharapkan melahirkan wartawan yang sehat jasmani, tangguh secara mental, serta mampu menghadirkan karya jurnalistik yang berkualitas dan dipercaya masyarakat.

Dalam sambutannya Ketua PWI NTB Ikliluddin mengungkapkan Porwada menjadi bagian dari pembinaan atlet wartawan menuju Pekan Olahraga Wartawan Nasional 2027 di Lampung. 

Sebagai informasi, kontingen PWI NTB sukses menempati peringkat ke-3 nasional pada ajang Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) XIV di Kalimantan Selatan. NTB mengumpulkan total 15 medali dengan rincian empat medali emas, dua medali Perak dan sembilan medali Perunggu.

Raihan bersejarah ini menempatkan NTB di urutan ketiga nasional tepat di bawah tuan rumah Kalimantan Selatan dan Jawa Barat. Tentu saja, menjadi target bagi PWI NTB untuk mempertahankan bahkan memperbaiki prestasi ini di Porwanas Lampung 2027 mendatang.

Dalam Porwada kali ini sejumlah Cabor dilombakan dan dipertandingkan. Seperti tenis lapangan, tenis meja, bulutangkis, catur, Bridge, e-sport, dan biliard. Selain itu dilombakan juga hiburan seperti domino dan karaoke.

Bagi masyarakat, wartawan identik dengan profesi yang kritis, serius, bahkan terkadang kaku. Namun Porwada menunjukkan sisi lain. Di balik berita-berita yang setiap hari memenuhi halaman media, wartawan juga manusia yang juga membutuhkan ruang untuk tertawa, berkeringat, dan menikmati kebersamaan.

Profesi wartawan memang tidak ringan. Jam kerja sering kali tak mengenal batas. Saat masyarakat berlibur, wartawan justru bekerja. Ketika bencana datang, mereka berada di garis depan menyampaikan informasi. Di tengah tekanan itu, menjaga kesehatan fisik menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan.

Karena itulah Porwada bukan hanya soal perebutan medali. Lebih dari itu, olahraga menjadi bahasa universal yang menyatukan insan pers. Perbedaan media, wilayah liputan, hingga sudut pandang pemberitaan mencair di dalam lapangan pertandingan.

Mungkin kemarin mereka saling berkompetisi mendapatkan berita tercepat. Hari ini mereka justru saling menyemangati agar mampu menyelesaikan pertandingan.

Momentum inilah yang menjadi ruh dari Porwada. Pemerintah Provinsi NTB pun memandang kegiatan tersebut bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang untuk memperkuat solidaritas, integritas, dan profesionalisme insan pers di daerah. 

Tidak mengherankan jika penyelenggaraan Porwada mendapat dukungan banyak pihak. Universitas Mataram membuka fasilitas olahraga terbaiknya sebagai venue pertandingan. Dukungan juga datang dari berbagai pemangku kepentingan yang melihat olahraga sebagai media mempererat kolaborasi antara pers, pemerintah, dan masyarakat. 

Di sela-sela pertandingan, obrolan ringan menjadi pemandangan yang tak kalah menarik. 

Wartawan dari Pulau Sumbawa berbagi cerita dengan rekannya dari Pulau Lombok. Mereka bertukar pengalaman liputan, berdiskusi tentang tantangan media digital, hingga mengenang kisah-kisah lucu saat menjalankan tugas jurnalistik. Semua berlangsung tanpa sekat.

Tidak ada ruang redaksi yang membatasi. Tidak ada logo media yang memisahkan.

Yang ada hanyalah rasa sebagai satu keluarga besar insan pers PWI Nusa Tenggara Barat.

Pada akhirnya, kemenangan memang akan tercatat dalam daftar juara. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada trofi. Yaitu persahabatan.

Sebab ketika peluit panjang dibunyikan dan pertandingan usai, para wartawan akan kembali mengenakan identitas lamanya. Kamera kembali di pundak. Buku catatan kembali di tangan. Mereka akan kembali mengejar berita demi memenuhi hak publik atas informasi.

Porwada NTB 2026 akhirnya membuktikan satu hal sederhana: seorang wartawan tidak hanya piawai mengungkap fakta,  tetapi juga mampu merajut kebersamaan melalui olahraga. (Fajar Rachmat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini