Kocimar, Bale Berdaya, dan Kepedulian PTAMNT

0
516

Penulis: Fajar Rachmat

Dengan berhati-hati, saya memarkirkan mobil di parkiran Bandara Sultan Kaharuddin IV Sumbawa, NTB. Siang itu parkiran cukup ramai. Saya ke bandara tidak bermaksud akan bepergian ataupun menjemput penumpang. Saya hanya ingin melihat secara langsung hasil produk dari program Bale Berdaya.

Untuk diketahui, Bale Berdaya ini adalah sebuah program pemberdayaan milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT) berkolaborasi organisasi KUMPUL.

Ketika saya datang, bertepatan dengan jadwal kedatangan dan keberangkatan pesawat. Tidak heran pengunjung cukup ramai. Saya langsung menuju sebuah tenant di bagian depan bandara.

Di samping pintu masuk tenant ada kursi tunggu. Sejumlah pengunjung bandara sedang duduk. Beberapa di antaranya tampak memegang paper cup (gelas kertas) berisi kopi. Seorang wanita penjaga tenant tampak sibuk melayani pembeli.

Ya, tenant bandara sumbawa inilah yang disewa oleh PTAMNT, untuk memasarkan produk-produk dari UMKM yang dibina oleh program Bale Berdaya.

‘’Pesan apa Pak?’’ tanya seorang wanita di dalam tenant. ‘’Apa yang ada Bu?’”

’Ada kopi Kocimar” “Kopi apa itu?‘’ “Kocimar adalah Kopi Racik Marga Karya,’’ katanya menjelaskan, karena kopi ini diracik dengan mencampurkan serbuk rempah ke dalam bubuk kopi. Marga Karya adalah adalah nama desa di Kecamatan Moyo Hulu, tempatnya tinggal. ‘’Oke, Saya minta kopi saja,’’ kata saya sambil melihat-lihat kemasan kopi yang dipajang di lemari display.

‘’Saya terinspirasi dari suami saya yang penikmat kopi,’’ katanya sambil menggunting kemasan kopi. Nur membuat kopi menggunakan proses drip sederhana. Di dalam kemasan kopi ada sebuah bungkusan kecil.

Isinya bubuk rempah rempah. Kemudian dituangkan langsung ke dalam gelas. Selanjutnya gelas diletakkan sebuah wadah sebagai saringan. Kemudian di dalam saringan baru dituangkan kopi. Kemudian air panas dituangkan ke atas bubuk kopi. Sehingga terjadilah proses nge-drip kopi.

Air kopi jatuh tetes demi setetes ke dalam gelas, tercampur dengan bubuk rempah yang sudah ada terlebih dahulu.Nuraini adalah salah satu dari 105 pelaku UMKM Sumbawa yang direkrut oleh program pemberdayaan PTAMNT, Bale Berdaya.

Nur mengaku senang sekali bisa memasarkan produknya di tenant Bandara Sultan Kaharuddin IV, Sumbawa Besar ini. Menurutnya, sebelum bergabung dengan program Bale Berdaya, omzetnya hanya 1-2 kg kopi per bulan. ‘’Sekarang sudah mencapai 12 kg per bulan,’’ katanya. Atau mencapai Rp 5 juta lebih per bulan. Saat ini Nur masih dibantu oleh seorang tetangga yang menjadi karyawannya.

Nuraini mengaku, peningkatan penjualannya ini hasil dari pelatihan-pelatihan yang diberikan oleh program Bale Berdaya. Dalam program tersebut dia diajarkan bagaimana cara memasarkan, bagaimana membuat kemasan, membuat branding untuk menarik konsumen.

Setiap ada kegiatan, dibuatkan testimoni dari penikmat kopi. Jenis kopi yang dijual adalah robusta. Salah satu rempah yang dicampur ada kayu manis yang dipercaya bisa mencegah penyakit jantung coroner. ‘’Harganya terjangkau tidak menguras isi kantong,’’ katanya berpromosi.

Kocimar hanyalah salah satu dari sekian banyak produk yang dihasilkan oleh pelaku-pelaku UMKM yang dibina melalui program Bale Berdaya, program yang digagas oleh Departemen Social Impact PTAMNT di Kabupaten Sumbawa. Masih banyak produk-produk local lainnya yang dihasilkan.

Senior Manager Social Impact PT AMNT Aji Suryanto mengungkapkan, program Bale Berdaya ini adalah program penguatan UMKM unggulan, khususnya yang berada di Kabupaten Sumbawa. Program yang menjadi bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PTAMNT ini, berkolaborasi dengan mitra pelaksana KUMPUL.

Program ini sudah berjalan hampir dua tahun. Bale Berdaya sementara menyasar UMKM di tujuh Kecamatan. Kecamatan Sumbawa, dan enam kecamatan di wilayah selatan yakni kecamatan Ropang, Lantung, Moyo Hulu, Lenangguar, Lunyuk dan Orong Telu.

Ada 105 pelaku UMKM yang direkrut sebagai anggota. Mereka tentu melalui seleksi. Proses seleksi dilakukan bekerjasama dengan Pemda Sumbawa, melalui Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumbawa.Fokus PPM ini adalah untuk mendukung pengembangan kewirausahaan di Sumbawa agar mampu tumbuh menjadi usaha menengah.

‘’Kami berharap UMKM Sumbawa yang ikut dalam program Bale Berdaya semakin tumbuh mandiri dan berkembang menjadi roda penggerak perekonomian lokal, bahkan nasional,” kata Aji. UMKM yang dibina ini bergerak dalam bidang multi sector. Seperti beras, kopi, sayuran, madu dan F&B. Dan 60 persen pelaku usahanya perempuan dengan usia dari 20-50 tahun.

Yang menarik dari program Bale Berdaya ini adalah, bukan hanya sekedar pelatihan langsung ke pelaku UMKM, namun PTAMNT juga memberdayakan pemuda local sebagai pendamping. Mereka disebut sebagai residence buddy. Mereka ini ditempatkan di masing-masing desa yang didampingi. ‘’Karena berdasarkan pengalaman, kebanyakan setelah pelatihan sehari dua hari, begitu sampai rumah lupa lagi,’’ imbuhnya.

Para pelaku UMKM ini sebenarnya butuh tempat diskusi dan curhat. Dan Residence Buddy yang ditempatkan ini tugasnya memastikan para anggota bale berdaya setelah mendapatkan pelatihan, mereka bisa mengimplementasikan di lapangan dalam bisnis mereka. Ada perubahan mindset dan perubahan perilaku yang bisa membantu dari bisnis mereka.

‘’Ada 40 residence buddy saat program berjalan. Sebelumnya mereka juga diberikan penguatan kapasitas melalui training-training,’’ jelasnya. Untuk seluruh UMKM, dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama UMKM yang usahanya sudah mapan dan sudah berjalan. Kebanyakan berada di Kecamatan Sumbawa. Mereka ini dinilai hanya butuh penetrasi pasar. Selain itu bagaimana mereka bisa mempersiapkan produk jauh lebih unggul dan lebih berkompetisi di tingkat yang lebih luas.

Sementara kelompok dua, di kecamatan sekitar tambang. Ada yang bisnis sudah berjalan. Ada juga yang masih ide. Nah, ini yang didampingi oleh Residence Buddy sampai produknya muncul. Karena banyak pemilik usaha hanya jualan hanya untuk hari ini. Mereka belum tahu pengembangan bisnis mau ke mana. Ini yang ingin diberdayakan melalui Bale Berdaya ini.

Diberikan pelatihan literasi keuangan, manajemen bisnis, branding, marketing, penjualan online, ofline, dan packaging yang representative.

Kemudian, Bale Berdaya juga mendampingi dalam pengurusan semua legalitas seperti izin usaha dan izin edar. Seperti NIB, BPOM, HAKI, NPWP. Selain itu bagaimana cara pengolahan pangan yang baik dan hygienis untuk produk F&B.

Yang tidak kalah penting, Bale Berdaya juga membantu memperkuat ekosistemnya. Seperti membantu menghubungkan dengan akses permodalan. UMKM itu disiapkan agar lebih bankable dan bisa bikin perencanaan bisnis.

Untuk jasa pengiriman Bale Berdaya kerjasama dengan PT POS Indonesia. Juga memastikan terjadi konektifitas di antara ekosistem sehingga para anggota bisa saling berkolaborasi dan saling mendukung untuk suplay chain atau rantai pasok. Misalnya UMKM bidang peternakan ayam, dihubungkan dengan UMKM yang jualan dimpsum. Madu yang banyak agar stok selalu ada.

Intinya mereka bukan hanya menimba ilmu, tetapi mereka juga bisa memperluas network atau jejaring bisnis mereka. Pada akhirnya mereka mendapatkan ongkos produksi yang jauh lebih murah.Aji berterimakasih kepada pihak Bandara Sumbawa yang telah memberikan space di bandara untuk mempromosikan produk-produk Bale Berdaya. ‘’Meskipun tidak gratis, tapi harganya sangat bersahabat,’’ ungkapnya.

Dengan capaian saat ini, rasa lelah dari kerja keras membentuk dan merekrut anggota Bale Berdaya ini terbayarkan. Mengingat luas Kabupaten Sumbawa yang sangat luas, dan topografi atau medan yang sulit dijangkau, tentu tidak mudah bagi tim Sosial Impact PTAMNT. Karena bagaimanapun, tim Sosial Impact PTAMNT harus bertemu langsung dengan pelaku UMKM untuk melakukan verifikasi. Juga untuk mengetahui secara langsung, apa sih masalah dan tantangan yang dihadapi oleh pelaku UMKM sehingga tahu apa solusinya.

Program Bale Berdaya PTAMNT ini mendapat sambutan hangat dari Pemda Sumbawa. Bupati Sumbawa H. Syarafuddin Jarot menegaskan komitmen Pemkab Sumbawa dalam mendukung dan memperkuat UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah. “UMKM adalah motor penggerak ekonomi rakyat. Melalui sinergi lintas sektor, kita ingin UMKM Sumbawa semakin berdaya, maju, dan sejahtera,” katanya.

Kepala Bandara Sultan Kaharuddin IV mengaku senang sekali bisa berpartisipasi dalam program bale berdaya PTAMNT ini. Dia langsung setuju untuk menyiapkan satu ruangan untuk dijadikan stan Bale Berdaya. Dengan adanya stan Bale Berdaya ini menjadi bagian dari etalase bandara yang menjadi ciri khas bandara sumbawa. ‘’Sengaja kami kasi space di depan biar kelihatan. Kasi waktu buka sampai jam 17.00 WITA, meskipun aktifitas penerbangan hanya sampai siang.

Delia Puspita Cahyani, salah satu dari 40 Residence Buddy, pendamping pelaku UMKM. Sebelum bertugas, dia mengaku bersama rekannya yang lain mendapatkan pelatihan-pelatihan dari pihak Sosial Impact PTAMNT. Tugasnya memfasilitasi dan memberikan pemahaman kepada pelaku UMKM bagaimana cara mengelola bisnis.

Menurut lulusan Fakultas Bio Tekhnology Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) ini, keterbatasan para pelaku UMKM adalah belum bisa melakukan digital marketing. ‘’Mereka harus lebih banyak belajar lagi menggunakan aplikasi e-commerce. Anggap saja seperti shopee, tokopedia, bukalapak, atau TikTok‘’

Di tenant ini kami tidak hanya menjual produk. Tetapi di sini ada cerita bagaimana kerja keras UMKM dan semangatnya menciptakan produk lokal sesuai dengan slogan ‘’Bale Berdaya Tumbuh Bersama untuk Sumbawa”

Menurutnya, aktifitas di bandara hanya sampai jam 12 siang, Sementara tenant dibuka dibuka sampai jam 17.00 WITA. Untuk mengisi kekosongan, diisi dengan kegiatan kegiatan membuat kerajinan tangan. Seperti pelatihan pembuatan tas jinjing, dan gantungan kunci. Delia beharap seluruh UMKM di Kabupaten Sumbawa bisa ‘naik kelas’ setelah mendapat bimbingan dari Bale Berdaya. (Fajar Rachmat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini