Oleh : Sahra, M.Pd (Pengawas Sekolah)
Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan murid, perencanaan metode pembelajaran yang dilaksanakan di kelas maupun luar kelas. Menurut jurnal Universitas Negeri Yogyakarta, teori belajar akan terkait dengan pembuatan kurikulum atau perancangan kurikulum. Dengan mempelajari teori belajar, maka guru bisa mencermati perilaku peserta didiknya. Nah, demikian ditahun pelajaran 2025/2026 ini kurikulum merdeka kita menggunakan pendekatan pembelajaran mendalam.
Lalu apa kaitan pembelajaran mendalam dengan teori belajar?
Disinilah kita sebagai guru mampu menelisik apa sih sebenarnya dari pendekatan mendalam ini yang dilakukan guru dalam proses pembelajarannya, menurut pemikiran penulis dari prinsip pembelajaran mendalam ini saja kita melihat ada berkesadaran, ada kebermaknaan, dan ada menggembirakan, tiga prinsip ini mengarahkan kita pada konsep teori belajar kontruktivisme yang menguatkan proses pembelajaran dan interaksi dengan orang lain.
Mengapa begitu ?
Pembelajaran mendalam terjadi ketika peserta didik ditantang dan dimotivasi dengan permasalahan dunia nyata. Dunia nyata ini sangta berkaitan dengan interaksi diri dengan orang lain, termasuk dengan orang tua, guru dan teman di sekolah, serta lingkungan murid berada dan lingkungan digital yang mereka miliki,
Teori konstruktivistik adalah aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi kita sendiri.
Teori ini menyatakan bahwa pengetahuan adalah bentukkan murid yang belajar lewat interaksi dengan bahan atau pengalaman baru, ilmu yang didapatkan tidak dapat ditransfer guru ke murid. Isi materi pelajaran ditentukan oleh murid sendiri. Teori belajar ini dihasilkan dari lingkungan sekitar dengan menggunakan panca indera seperti melihat, mendengar, menjamah, mencium, dan merasakan. Ataupun dengan pengetahuan sebelumnya seperti pengetahuan fisik, pengetahuan kognitif, ataupun pengetahuan mental. Strategi pembelajaran konstruktivisme adalah belajar aktif, belajar mandiri, belajar kooperatif, dan lain sebagainya. Menurut buku Teori Konstruktivisme karya Ahmad Suryadi dkk, kelebihan dari teori ini adalah murid lebih aktif dan kreatif.
Melalui pembelajaran ini, murid dituntut bisa memahami pembelajarannya baik yang didapat di sekolah maupun di luar. Sehingga pengetahuan yang didapatkan dapat dikaitkan dengan baik dan sesama. Sementara salah satu kekurangannya adalah dalam pendekatan ini, guru tidak menerapkan pengetahuan yang dimilikinya, tapi membantu murid membentuk pengetahuannya sendiri. Oleh karena itulah guru pada pembelajaran mendalam perlu merancang proses melalui pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
Dalam menyusun perencanaan pembelajaran, pendidik menerapkan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Prinsip berkesadaran diwujudkan dengan melibatkan murid secara aktif dalam memahami tujuan pembelajaran, memotivasi mereka untuk mengatur strategi belajar, dan merefleksikan proses belajar yang dijalani. Pembelajaran bermakna dicapai dengan mengaitkan materi dengan konteks kehidupan nyata sehingga murid dapat mengonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengalaman dan pemahaman sebelumnya.
Sementara itu, pembelajaran menggembirakan diciptakan melalui suasana yang positif, inklusif, dan menyenangkan, dengan metode yang interaktif serta penggunaan media yang menarik sehingga murid merasa dihargai, terhubung secara emosional, menantang, dan termotivasi untuk belajar. Ketiga prinsip tersebut saling melengkapi dalam membangun proses pembelajaran yang mendalam, utuh, dan berdampak bagi murid.
Inilah yang harus kita pahami sebagai guru, PROSES kita membelajarkan murid bukan semata-mata mencari format administrasi perencanaan mengajar. Mari terus bergerak mulai dari diri sendiri yang berdampak kemajuan bagi murid kita. Terima kasih. (*)




