
Aroma kopi membawa orang mendekat. Pelepah pisang yang dianggap limbah berubah menjadi kerajinan. Ikan yang dahulu cepat membusuk kini menyeberangi lautan. Di balik semua itu ada cerita tentang orang-orang kecil yang sedang belajar membesarkan mimpinya.
Aroma kopi itu datang pelan-pelan. Ia menyelinap di antara kesibukan orang-orang yang sedang menunggu penerbangan di Bandara Sultan Kaharuddin IV Sumbawa. Harum, hangat, sedikit getir, tetapi menggoda.
Saya sedang duduk menunggu waktu boarding ketika aroma itu membuat mata mencari-cari sumbernya.
Ternyata berasal dari sebuah tenant di teras bandara. Saya mendekat.
“Ada yang bisa dibantu, Pak?” tanya seorang perempuan dari balik meja.
“Ada kopi, Bu?”
“Ada. Kopi Kocimar.”
“Kopi apa itu?”
Perempuan itu tersenyum.
“Kocimar itu Kopi Racik Marga Karya.”
Nama itu ternyata menyimpan cerita.
Marga Karya adalah sebuah desa di Kecamatan Moyo Hulu. Di sanalah kopi itu lahir dari tangan Nuraini, seorang perempuan yang awalnya terinspirasi dari kebiasaan suaminya sebagai penikmat kopi.
Kocimar bukan kopi biasa.
Di dalam kemasannya terdapat kopi robusta dan bungkusan kecil berisi racikan rempah. Ketika diseduh, rempah itu memberikan karakter berbeda pada kopi.
Nuraini memperagakan cara membuatnya.
Kopi ditaruh di dalam saringan. Air panas dituangkan perlahan. Tetes demi tetes air kopi turun ke dalam gelas, bertemu dengan rempah yang telah lebih dahulu berada di sana.
Sederhana. Tetapi dari kesederhanaan itu, sebuah usaha sedang tumbuh.
Sebelum mengenal program Bale Berdaya, Nuraini hanya mampu menjual sekitar satu sampai dua kilogram kopi dalam sebulan.
Kini angkanya sudah mencapai sekitar 12 kilogram per bulan, dengan omzet lebih dari Rp5 juta.
Ia bahkan sudah dibantu seorang tetangga yang menjadi karyawannya. Perubahan itu tidak datang tiba-tiba.
Nuraini mendapatkan pelatihan mengenai pemasaran, kemasan, branding hingga cara membangun daya tarik produk. Setiap kegiatan juga dimanfaatkan untuk mendapatkan testimoni dari para penikmat kopi.
Kocimar kemudian bukan lagi sekadar kopi racikan dari Marga Karya. Ia menjadi sebuah produk. Sebuah merek. Sebuah usaha.
Dan sebuah cerita tentang bagaimana sesuatu yang sederhana bisa memiliki nilai ketika dikelola dengan cara yang tepat.
Tetapi cerita tentang bagaimana Sumbawa mengubah sesuatu yang biasa menjadi berharga ternyata tidak berhenti di secangkir kopi.
Perjalanan saya berlanjut ke sebuah tempat yang sama sekali berbeda.
Di Balik “Sampah” Pantai Jempol
Mendengar nama Pantai Jempol, Labuhan Sumbawa, orang biasanya langsung membayangkan tempat rekreasi.
Warung-warung makanan khas Sumbawa berjejer di sepanjang tepian. Bangunannya menghadap langsung ke laut. Di depannya, orang-orang duduk bersila menikmati serabi, sate cumi dan pelecing.
Ketika sore tiba, suasananya semakin indah. Matahari perlahan turun ke cakrawala. Langit berubah warna. Sunset menjadi penutup sempurna bagi mereka yang datang menikmati pantai.
Namun ternyata, tidak semua bangunan yang berjejer menghadap laut itu adalah warung. Ada sebuah rumah kecil sederhana berpagar kayu.
Dari luar, rumah itu terlihat seperti rumah yang kurang terawat. Di terasnya berserakan benda-benda yang sekilas tampak seperti sampah.
Pelepah pisang kering. Potongan-potongan kayu. Kertas. Kardus. Barang-barang yang bagi sebagian orang mungkin sudah tidak memiliki nilai. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian. Sebuah lemari kaca. Di dalamnya tersusun berbagai kerajinan tangan. Rapi. Indah.
Berbeda sekali dengan kesan pertama yang muncul dari halaman rumah itu. Inilah bengkel kerajinan tangan Gemala Craft, milik Dian.
Dan “sampah” yang berserakan di teras itu ternyata bukan sampah. Itulah bahan bakunya.
Sejak 2012 Dian sudah lama memiliki ketertarikan pada kerajinan.
Sebelumnya, ia mengolah limbah kertas, plastik dan bekas kemasan menjadi berbagai produk. Hampers. Kotak tisu. Vas bunga. Bingkai.
Dan berbagai kerajinan lainnya. Cukup sukses karena banyak peminatnya. Tapi wabah covid 19 mengubah segalanya. Usahanya terpuruk. Nyaris putus asa. Sempat banting setir. Membuat snack popcorn. Dijual di pasar dan titip di orang nganvas.
Setahun setelah wabah covid berlalu, Dian bangkit kembali. Terus mencoba membuat karya. Namun dengan bahan dasar yang low budget. Perhatiannya tertuju pada limbah yang melimpah di sekitar rumah. Pelepah pisang tetangga. Setelah buahnya dipanen, batang pisang biasanya ditebang. Dibiarkan membusuk. Bagi kebanyakan orang, selesai sudah manfaatnya.
Tetapi Dian melihat sesuatu yang lain. Ia melihat bahan baku. Ia mulai bereksperimen. Tidak mudah. Suaminya pun awalnya tidak mendukung. Namun setelah melihat buktinya, pelan-pelan suaminya mulai membantu. Dian mencoba berbagai cara hingga akhirnya pelepah pisang itu bisa diolah menjadi kerajinan.
“Alhamdulillah, pelepah pisang menjadi produk yang bernilai jual,” katanya.
Dari halaman rumah sederhana di tepi Pantai Jempol, sebuah gagasan kecil perlahan tumbuh.
Sesuatu yang selama ini dibuang justru memiliki nilai. Limbah berubah menjadi karya. Dan karya berubah menjadi penghasilan.
Produk Gemala Craft bahkan telah dipasarkan hingga ke luar negeri. Singapore dan Hongkong. Namun Dian sadar, perjalanan usahanya belum selesai. Masih ada kekurangan dalam kualitas produk. Jaringan pemasaran juga masih harus diperluas.
Di sinilah ia kemudian bertemu dengan Bale Berdaya, program pemberdayaan UMKM yang disiapkan PT AMNT bersama mitra pelaksana KUMPUL. Dian mengikuti pelatihan.
Bersama bale Berdaya AMMAN, Dian pertama kalinya mulai mendapatkan pengetahuan yang lebih terstruktur tentang bagaimana mengembangkan usaha. Branding. Packaging. Business Model Canvas. Pengelolaan keuangan. Pengembangan bisnis. Pemanfaatan media sosial. Produk yang sebelumnya dibuat terutama berdasarkan pesanan, mulai disiapkan untuk dipajang di gallery.
Instagram, Facebook dan TikTok juga mulai dimanfaatkan sebagai etalase digital. Dian menggambarkan pengalaman itu dengan sebuah perumpamaan yang sangat sederhana.
“Ibarat saya punya tanah, Amman dan KUMPUL memberikan saya bahan bangunan, kemudian saya diarahkan untuk mengolahnya.” Kalimat itu terasa tepat. Sebab Bale Berdaya tidak datang untuk menggantikan tangan para pelaku UMKM.
Mereka datang membawa pengetahuan, membuka akses, memberi pendampingan, lalu membiarkan para pemilik usaha membangun rumahnya sendiri. Setelah mengikuti program, omzet Gemala Craft meningkat sekitar 20–40 persen. Tetapi bagi Dian, mungkin bukan angka itu yang paling penting. Yang lebih penting adalah ia kini tahu ke mana usahanya harus diarahkan.
Jika Pantai Jempol memperlihatkan bagaimana limbah dapat berubah menjadi karya, dari pesisir Sumbawa ada cerita lain tentang bagaimana hasil laut dapat berubah menjadi komoditas bernilai.
Namanya Fitriani. Perempuan asal Labuhan Jontal, Kecamatan Plampang, ini sejak kecil sudah akrab dengan ikan. Orang tuanya merupakan pengepul dan penjual ikan di pasar.
Tetapi setelah menikah dan tinggal di Sumbawa, Fitri mulai melihat ikan dari sudut pandang berbeda. Ia melihat persoalan. Ikan segar cepat rusak. Harganya ketika dijual mentah juga tidak selalu menguntungkan. Tanpa fasilitas penyimpanan yang memadai, ikan harus segera dijual.
Maka muncul sebuah gagasan sederhana: Mengapa ikan tidak diubah menjadi produk yang lebih tahan lama dan memiliki nilai jual lebih tinggi? Fitri kemudian mengembangkan ikan bage melalui usaha Bale Seafood. Ikan laut dibelah, diberi asam dan garam secukupnya, kemudian dikeringkan. Resep tradisional itu kemudian diberi sentuhan kewirausahaan.
Awalnya target pasarnya sederhana. Tetangga. Teman. Kenalan. Tetapi pasar ternyata memiliki kejutan. Pesanan mulai berdatangan dari Bima, Dompu, Lombok, Purworejo, Malang dan Tangerang.
Bahkan ikan bage dari Sumbawa kemudian sampai ke tangan warga Indonesia yang bekerja di Hongkong, Malaysia dan Singapura. Kini Bale Seafood dapat melayani pesanan sekitar 160 kilogram ikan bage setiap bulan.
Pesanan datang melalui Instagram, WhatsApp dan Facebook. Ada pula pelanggan yang datang langsung untuk membeli ikan bage sebagai lauk maupun oleh-oleh.
Untuk pasar luar daerah dan luar negeri, ikan harus dikeringkan lebih maksimal agar memiliki daya tahan lebih lama. Ke Hongkong, pengiriman dilakukan melalui Bali. Ke Malaysia dan Singapura melalui Jawa. Sebuah produk tradisional Sumbawa pun melakukan perjalanan jauh.
Dari laut Labuhan Jontal menuju dapur-dapur orang Sumbawa yang berada ribuan kilometer dari kampung halaman.
Seiring usahanya berkembang, Fitri menyadari bahwa produk yang bagus saja tidak cukup.
Ia harus memiliki legalitas. NIB. PIRT. NPWP. HAKI. Sertifikasi halal.
Ketika bergabung dengan Bale Berdaya AMMAN, proses pengembangan usahanya semakin terarah. Ia mendapatkan pendampingan mengenai branding, target pasar, kemasan, strategi bisnis, analisis pasar dan konsumen, manajemen keuangan hingga standar operasional produksi. Termasuk fasilitasi pengurusan BPOM.
Dari ilmu yang diperoleh dan diterapkan, omzetnya meningkat sekitar 30–80 persen. Di sinilah ketiga cerita tadi mulai menemukan titik temu.
Kopi Kocimar. Gemala Craft. Bale Seafood. Ketiganya berbeda produk. Berbeda karakter. Berbeda cara produksi. Tetapi memiliki persoalan yang sama:
Bagaimana membuat usaha kecil mampu tumbuh?
Jawabannya bukan sekadar modal. Ada pengetahuan. Ada pasar. Ada branding. Ada kemasan. Ada legalitas. Ada pendampingan. Dan yang tidak kalah penting, ada perubahan cara berpikir.
Menurut Senior Manager Social Impact PTAMNT Aji Suryanto, Bale Berdaya merupakan program penguatan UMKM unggulan, khususnya di Kabupaten Sumbawa.
Program yang menjadi bagian dari Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PTAMNT itu berkolaborasi dengan KUMPUL. Sebanyak 105 pelaku UMKM dari tujuh kecamatan telah direkrut. Mereka berasal dari Kecamatan Sumbawa, Ropang, Lantung, Moyo Hulu, Lenangguar, Lunyuk dan Orong Telu.
Bidang usahanya beragam. Beras. Kopi. Sayuran. Madu. Makanan dan minuman. Kerajinan.
Aji mengatakan, tujuan akhirnya adalah agar UMKM yang dibina mampu tumbuh mandiri dan menjadi penggerak ekonomi lokal, bahkan berkembang ke tingkat nasional.
Kekayaan Sumbawa yang Tidak Terlihat
Mungkin selama ini ketika berbicara tentang kekayaan Sumbawa, pikiran orang langsung menuju tanah. Kandungan mineral. Tambang. Emas. Tembaga.
Tetapi perjalanan dari Kocimar menuju Gemala Craft lalu ke Bale Seafood menunjukkan bahwa ada kekayaan lain yang tak kalah penting. Kekayaan itu berada di tangan manusia.Di tangan Nuraini yang meracik kopi. Di tangan Dian yang mengolah pelepah pisang. Di tangan Fitriani yang mengolah ikan. Mereka mengajarkan satu hal sederhana:
nilai tidak selalu melekat pada benda. Nilai bisa diciptakan oleh manusia.
Maka pemberdayaan sesungguhnya bukan sekadar memberi bantuan.
Pemberdayaan adalah membuat seseorang mampu melihat nilai yang sebelumnya tidak terlihat. Karena tambang tidak hanya berada di dalam perut bumi.
Sumbawa memang memiliki kekayaan alam. Tetapi masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh apa yang bisa dikeluarkan dari dalam bumi. Ia juga ditentukan oleh apa yang bisa ditumbuhkan dari manusianya. Tambang suatu hari akan berhenti berproduksi. Namun pengetahuan akan terus diwariskan. Keterampilan akan terus berkembang. Satu usaha dapat melahirkan usaha lain.
Itulah mengapa cerita tentang Bale Berdaya AMMAN sebenarnya bukan hanya cerita tentang UMKM. Ini adalah cerita tentang harga diri, kemandirian dan masa depan.
Di Pantai Jempol, saya kembali teringat pada tumpukan pelepah pisang di teras rumah Dian.
Dari luar terlihat seperti sampah. Tetapi setelah masuk lebih jauh, ternyata di sana ada karya. Ada kreativitas. Ada penghasilan. Ada harapan.
Mungkin begitulah Sumbawa seharusnya melihat dirinya sendiri. Bukan hanya sebagai daerah yang memiliki apa yang berharga di bawah tanah. Tetapi sebagai daerah yang memiliki manusia-manusia yang mampu mengubah apa pun yang ada di sekitarnya menjadi sesuatu yang bernilai.
Kopi. Pelepah pisang. Madu. Ikan. Semuanya bisa menjadi jalan menuju kesejahteraan.
Asalkan ada pengetahuan. Ada keberanian. Ada pasar. Dan ada ekosistem yang membuat mereka tidak berjalan sendirian.
Di situlah Bale Berdaya AMMAN mengambil peran. Bukan memberi ikan. Bukan sekadar memberikan modal. Tetapi menemani masyarakat menemukan cara untuk mengolah apa yang mereka punya menjadi kekuatan.
Sebab pada akhirnya, kekayaan terbesar sebuah daerah bukan hanya apa yang bisa diambil dari tanahnya. Tetapi apa yang bisa ditumbuhkan dari manusianya. Dan mungkin, itulah makna paling dalam dari kalimat: Bale berdaya- Tumbuh Bersama untuk Sumbawa.
(Fajar Rachmat)




