Ubah Cacian menjadi Cuan Hingga Dikejar Anjing, Kisah Petugas SE 2026

0
262
Suryati (kanan) petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 saat mewawancarai seorang warga Kelurahan Uma Sima, Kecamatan Sumbawa.

Suatu hari, Suryati (44) warga Kelurahan Lempeh, Kecamatan Sumbawa membuka telepon genggamnya. Dia  tersenyum sendiri. Kolom komentar akun Facebook miliknya kembali ramai. Ada yang bertanya, ada yang bercanda, tetapi tidak sedikit pula yang mencibir.

“Ini pendataan buat pajak ya?”

“Terus manfaatnya buat kita apa? Anda enak dapat gaji, lah kita udah gak dapat apa-apa. Buang-buang waktu”

“Jangan kaget nanti ada surat pajak datang.”

Komentar-komentar semacam itu nyaris selalu muncul setiap kali dirinya mengunggah aktivitas sebagai petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026. Namun perempuan itu justru tidak marah. Sebaliknya, ia tertawa.

“Semakin banyak komentar, semakin tinggi jumlah tayang konten saya. Jadi saya malah dapat cuan dari Facebook,” katanya sambil tersenyum. Artinya, Anda mendapat berkah dari cacian warganet terhadap Sensus Ekonomi 2026? “Iya, begitulah,” jawabnya disambut tawa.

Suryati adalah petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 yang bertugas di Kelurahan Uma Sima, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa. Bagi dirinya, pekerjaan sebagai petugas sensus bukanlah hal baru. Sebelumnya ia telah terlibat dalam berbagai pendataan nasional, mulai dari Sensus Pertanian hingga Registrasi Sosial Ekonomi atau Regsosek. Namun menurutnya, Sensus Ekonomi 2026 memiliki tingkat kompleksitas yang berbeda.

“Kalau SE 2026 ini ibaratnya sensus paket komplit. Semua jenis sensus masuk di dalamnya,” katanya. Wilayah tugasnya pun tidak kecil. Ia membawahi delapan Satuan Lingkungan Setempat atau SLS. Atau setara dengan delapan RT yang tersebar di tiga RW.

Berbeda dengan sensus penduduk yang mendata per kepala keluarga, pada sensus kali ini yang menjadi objek pendataan adalah bangunan dan aktivitas ekonomi yang ada di dalamnya. “Yang kami sensus bukan per kepala keluarga, tetapi per bangunannya,” ujarnya. Hingga pertengahan Juli, capaian pendataannya telah melampaui 40 persen. Masih ada waktu hingga akhir Agustus untuk menuntaskan seluruh target menjadi 100 persen.

Namun pekerjaan itu tidak selalu mudah. Topografi Kelurahan Uma Sima cukup menantang. Sebagian rumah warga berdiri di lereng-lereng bukit kecil dengan jalan setapak yang menanjak. Setelah susah payah mendaki menuju rumah responden, petugas masih harus menuruni jalan yang sama untuk menuju rumah berikutnya.

“Wilayah saya ini berbukit. Banyak rumah berada di atas. Jalannya mendaki dan cukup melelahkan,” katanya. Suatu ketika dirinya pernah kehilangan keseimbangan. Ia tergelincir. Tubuhnya menggelinding menuruni jalan menurun yang licin. “Saya pernah tergelincir dan menggelinding terjatuh,” ujarnya sambil tertawa mengenang kejadian tersebut.

Tetapi keesokan harinya ia kembali turun ke lapangan seperti biasa. Masih dengan tas di punggung dan daftar bangunan yang harus didata.

Ada hal lain yang membuat pekerjaan itu terasa menyenangkan. Suryati ternyata tidak tinggal di wilayah tugasnya. Dia tinggal di Kelurahan Lempeh. Sementara wilayah tugasnya ada di Kelurahan Uma Sima. Artinya hampir seluruh warga yang ditemuinya adalah orang-orang baru.

Namun justru dari proses pendataan itu lahir banyak perkenalan baru. Ada warga yang mengajaknya berbincang lebih lama setelah wawancara selesai. Ada yang mempersilahkannya beristirahat sejenak. Ada pula yang memberinya buah tangan. “Kadang saya diberikan oleh-oleh. Mulai dari isi kulkas sampai isi kebun,” katanya sambil tertawa.

Sensus ternyata tidak hanya menghasilkan data. Ia juga menghadirkan persahabatan.

Bagi Suryati, salah satu momen paling membahagiakan justru datang dari sesuatu yang sederhana. Dari dua batang cokelat. Aktivitasnya yang rajin mempromosikan Sensus Ekonomi 2026 melalui media sosial rupanya menarik perhatian Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumbawa. Pimpinan BPS mendengar ada seorang petugas lapangan yang aktif membuat konten dan memviralkan kegiatan sensus.

Ia pun dipanggil. Bukan untuk ditegur. Tetapi untuk diapresiasi. “Saya mendapatkan dua batang cokelat dari beliau,” katanya bangga. Barangkali bagi orang lain itu hanya dua batang cokelat biasa. Tetapi bagi seorang petugas lapangan, perhatian kecil itu terasa jauh lebih besar daripada nilainya. Menurutnya, yang paling berharga bukanlah hadiahnya, melainkan penghargaan tulus atas kerja yang dilakukan di lapangan.

Di tempat lain, cerita berbeda datang dari Kecamatan Maluk dan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat. Di wilayah lingkar tambang itu, Murniati (36) menjalankan tugas sebagai pengawas petugas lapangan atau PPL. Ia membawahi delapan petugas yang setiap hari bekerja dari pagi hingga sore. Malam harinya, mereka berkumpul kembali untuk melakukan rekapitulasi hasil pendataan.

Di situlah berbagai cerita lapangan bermunculan. “Banyak cerita penolakan dari warga yang didatangi,” ujarnya. Namun sebagian besar penolakan itu akhirnya mencair setelah petugas menjelaskan bahwa sensus tidak berkaitan dengan pajak ataupun bantuan sosial. Warga yang semula menolak akhirnya bersedia menerima kedatangan petugas.

Meski demikian, cerita lapangan terkadang lebih dramatis daripada yang dibayangkan. “Ada petugas kami yang dikejar anjing,” kata Murniati sambil tertawa. Rumah yang hendak didatangi ternyata berada di tengah kebun dan dijaga seekor anjing galak. Petugas pun terpaksa berlari mencari perlindungan sambil meminta bantuan pemilik kebun. Beruntung sang pemilik segera menghalau anjingnya setelah mengetahui tamunya adalah petugas Sensus Ekonomi 2026.

Tantangan lain datang dari karakteristik wilayah Maluk dan Sekongkang yang merupakan kawasan lingkar tambang. Sebagian besar masyarakat bekerja di sektor pertambangan, baik di perusahaan operator tambang maupun perusahaan kontraktor dan mitra usaha. Tidak mudah menemui pimpinan perusahaan ataupun pengelola usaha di wilayah tersebut.

Petugas harus datang lebih dulu menemui petugas keamanan, menjelaskan maksud kedatangan, meminta nomor kontak, lalu membuat janji untuk pendataan berikutnya.

Sering kali mereka harus datang berkali-kali sebelum akhirnya berhasil melakukan wawancara. Hingga pertengahan Juli, menurut Murniati, baru ada satu warga yang benar-benar menolak pendataan. Bahkan setelah didatangi dua kali, warga tersebut masih belum bersedia menerima petugas.

“Nanti yang ketiga kali saya akan ikut mendampingi petugas lapangan,” kata Murniati yang juga Kepala Dusun di Desa Bukit Damai, Kecamatan Maluk ini. Ia berharap pintu itu akhirnya terbuka.

Sementara itu Hj Kushariati, warga Dusun Kauman, Desa Labuhan Sumbawa, Kecamatan Labuhan Badas, Sumbawa, mengaku tidak mengkhawatirkan apa pun terkait SE 2026 ini. Kus sehari-hari hanya ibu rumah tangga biasa. Dia sudah sakit-sakitan. Suaminya pun demikian. Berbekal mesin jahit butut, Kus hanya bisa merombak pakaian untuk bertahan hidup.

“Tidak ada yang saya khawatirkan orang yang datang sensus. Yang paling penting sebenarnya adalah, apa tindakan pemerintah setelah kami disensus,” ujarnya. “Apa program pemerintah setelah mengetahui kondisi kami seperti ini,” lanjutnya.

Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot sebelumnya telah mencanangkan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 pada 30 Juni lalu. Ia mengajak seluruh masyarakat, khususnya pelaku usaha, untuk berpartisipasi aktif menyukseskan pendataan tersebut. Menurutnya, keberhasilan sensus tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas, tetapi juga pada kejujuran masyarakat dalam memberikan informasi.

“Data yang dihimpun melalui Sensus Ekonomi bertujuan menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat secara nyata. Perencanaan pembangunan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan apabila didukung data yang akurat, valid, dan konsisten,” ujar Bupati.

Kepala BPS Kabupaten Sumbawa, Yudi Wahyudin, menjelaskan bahwa Sensus Ekonomi merupakan agenda nasional yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali. Pelaksanaan tahun 2026 menjadi sensus ekonomi kelima sejak pertama kali digelar pada 1986.

BPS, kata dia, secara berkala melaksanakan tiga sensus besar nasional, yakni Sensus Penduduk pada tahun berakhiran nol, Sensus Pertanian pada tahun berakhiran tiga, dan Sensus Ekonomi pada tahun berakhiran enam.

Tujuan utamanya adalah menyediakan data dasar seluruh aktivitas ekonomi masyarakat sebagai bahan penyusunan kebijakan pembangunan.

“Hasil sensus akan memberikan gambaran mengenai struktur ekonomi, karakteristik pelaku usaha, perkembangan ekonomi digital hingga potensi ekonomi hijau,” jelasnya.

Di Kabupaten Sumbawa sendiri, sebanyak 279 petugas telah direkrut dan dilatih sebelum turun ke lapangan sejak pertengahan Juni hingga Agustus 2026. Mereka tersebar di seluruh kecamatan. Kecamatan Sumbawa menjadi wilayah dengan jumlah petugas terbanyak, yakni mencapai 52 orang.

Namun di balik angka-angka statistik itu, ada kisah-kisah kecil yang jarang terlihat. Ada petugas yang tergelincir di jalan menurun. Ada yang dikejar anjing penjaga kebun. Ada yang harus kembali berkali-kali karena responden belum bisa ditemui. Ada pula yang pulang membawa oleh-oleh dari kebun warga. Dan ada seorang petugas yang berhasil mengubah cibiran media sosial menjadi tambahan penghasilan.

Suatu hari nanti, ketika angka-angka pertumbuhan ekonomi dipresentasikan di ruang rapat pemerintah atau menjadi dasar lahirnya kebijakan pembangunan, mungkin tidak banyak orang yang mengingat siapa yang pertama kali mengumpulkan data-data tersebut.

Nama mereka mungkin tidak pernah tercantum di halaman depan laporan statistik. Tetapi merekalah orang-orang yang setiap hari mengetuk pintu rumah dan tempat usaha masyarakat. Mereka berjalan dari gang ke gang. Dari bukit ke bukit. Turun ke lembah. Dari kebun ke kebun. Membawa tas, formulir, dan harapan sederhana bahwa masa depan pembangunan yang baik selalu dimulai dari satu hal yang sama: data yang baik. (Fajar Rachmat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini