Dari Lereng Olat Utuk menuju Dunia: Tiga Santri Dea Malela Tembus Kampus Global

0
228

Di sebuah lembah sunyi di wilayah selatan Kabupaten Sumbawa, Pesantren Modern Internasional (PMI) Dea Malela terus menyalakan mimpinya: From Sumbawa to the World. 

Sebuah visi besar yang dulu terdengar seperti harapan jauh, kini satu per satu menjadi kenyataan. Tidak perduli akses jalan dari ibukota kabupaten menuju ponpes ini sangat sulit. Aspalnya penuh lubang menganga.

Tahun ini, tiga santri terbaiknya kembali menorehkan prestasi yang bukan hanya membanggakan pesantren—tetapi juga mengangkat nama Sumbawa ke pentas global.

Mereka bukan hanya berhasil melanjutkan studi ke luar negeri. Mereka menembus universitas-universitas bergengsi di Australia, Inggris, dan Selandia Baru dengan disiplin ilmu yang menuntut ketekunan: neuroscience, data analytics, statistics, hingga biomedical science.

Prestasi yang jarang diraih santri, bahkan oleh banyak sekolah unggulan sekalipun.

Ruang Kecil, Mimpi Besar

Sekretaris PMI Dea Malela, Amiruddin, S.Pd., M.Si, menyampaikan kabar bahagia itu dengan sorot mata yang sulit disembunyikan: gabungan antara haru, bangga, dan lega.

“Kami sangat bangga atas kegigihan para santri. Ini adalah buah kerja keras mereka serta bimbingan intensif yang diberikan di pesantren,” ujarnya. Di balik kalimat itu tersimpan ritme belajar panjang: program pendampingan akademik, pembinaan karakter, kelas literasi, hingga pelatihan IELTS yang menjadi jembatan awal menuju kampus luar negeri.

Ersya, Menantang Misteri Otak Manusia

Santri pertama adalah Ersya Putri Shalsabila. Putri sulung dari tiga bersaudara ini memupuk impian yang tidak biasa bagi anak muda seusianya: mempelajari neuroscience. Ia diterima di Macquarie University, Sydney dan University of York, Inggris.

Ersya ingin memahami bagaimana otak manusia bekerja, bagaimana memori terbentuk, dan mengapa kecerdasan bisa berbeda pada setiap orang. Bidang yang rumit, namun justru menjadi tantangan bagi dirinya.

Nurul Aisyah, ibu dan dari Ersya mengaku bersyukur atas anugerah Allah kepada putrinya. Yuyun, panggilan akrab Nurul Aisyah berharap ilmu ya g diperoleh Ersya nantinya bisa bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. “Syukur kepada Allah,” kata wanita yang bekerja di Dinas Sosial, Pemkab Sumbawa Barat ini

Rizkia, Menemukan Logika Dunia dalam Angka

Berbeda dengan Ersya, Rizkia Hadianty jatuh cinta pada angka-angka. Statistik dan data adalah bahasa baginya—cara untuk membaca kehidupan, memprediksi pola, dan mengurai masalah. Ia diterima di:

  • Canterbury University, Statistics
  • Waikato University, Data Analytics & Education and Society

Rizkia bermimpi suatu hari dapat kembali ke tanah kelahirannya, membantu dunia pendidikan dengan pendekatan berbasis data yang lebih modern.

Mulki, Menjembatani Psikologi dan Sains Medis

Sementara itu, MK. Mulki Khatami memiliki ketertarikan luar biasa pada hubungan antara perilaku manusia dan proses biologis dalam tubuh.

Ia diterima di Macquarie University, Neuroscience dan Waikato University, Psychology & Biomedical Sciences

Pilihan jurusannya menunjukkan keberanian: melompat jauh ke disiplin yang menuntut riset, laboratorium, dan ketekunan tinggi.

Bukan Sekadar Pesantren

Prestasi ini mengukuhkan PMI Dea Malela sebagai Center of Excellence—institusi yang melampaui definisi pesantren pada umumnya. Di sini, agama, sains, teknologi, dan keterampilan abad 21 diramu dalam satu ekosistem pendidikan.

Para santri tidak hanya belajar kitab kuning dan Al-Qur’an, tetapi juga diperkuat dengan:

  • kurikulum sains modern,
  • pengembangan bahasa internasional,
  • pelatihan akademik bertaraf global,
  • dan karakter tangguh yang menjadi fondasi mereka melangkah jauh.

Kombinasi inilah yang membuka jalan bagi para santri untuk bersaing dengan siswa dari berbagai negara.

Inspirasi dari Timur

Bagi PMI Dea Malela, prestasi tiga santri ini bukan garis akhir—tetapi tanda bahwa jalan itu kini terbuka lebih lebar. Mereka menjadi simbol harapan bagi anak-anak Sumbawa: bahwa meskipun berasal dari daerah, mimpi besar tetap sah diperjuangkan.

Dari asrama sederhana di lembah Olat Utuk, Desa Pemangong, Kecamatan Lenangguar, Dea Malela, tiga anak muda ini kini berangkat membawa harapan banyak orang. Dan setiap langkah mereka di kampus-kampus dunia adalah bukti bahwa pendidikan berkualitas tidak mengenal batas geografi.

Dari Sumbawa menuju dunia—bukan lagi cita-cita, melainkan kenyataan. (Laporan: Fajar Rachmat)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini