MATARAM- Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) di Halaman Istana Kepresidenan Jakarta, pada Senin, 24 Februari 2025.
Peluncuran Danantara ini menandai langkah strategis pemerintah dalam mengelola investasi nasional guna mendukung pertumbuhan investasi yang berkelanjutan.
“Peluncuran Danantara Indonesia hari ini memiliki arti yang sangat penting karena Danantara Indonesia bukan sekadar badan pengelola investasi melainkan harus menjadi instrumen pembangunan nasional yang akan mengoptimalkan cara kita mengelola kekayaan Indonesia,” ucap Presiden.
Terkait hal ini, Gubernur NTB periode 2018-2023 Dr Zulkieflimansyah mengingatkan Danantara. Menurutnya, Danantara itu Entitas yang berkepentingan pada Investasi.
Menurut Bang Zul, akrabnya, mental atau model orang-orang investasi ini biasanya jangka pendek dan lebih mengedepankan pertimbangan finansial
“Dalam Ilmu ekonomi cara pemahaman teman-teman ini mazhabnya neo classical,” ujar Doktor Ekonomi lulusan Inggris ini.
“Di sisi yang lain Industrialisasi itu prosesnya panjang dan berliku. Butuh pembelajaran yg lama dan butuh biaya yg tidak sedikit,” imbuhnya.
Sehingga, menurut peneliti muda terbaik LIPI ini, mengharapkan Danantara akan membiayai investasi seperti industrialisasi ini nampaknya akan sulit.
Jadi Danantara harus bagaimana?
Kahadiran Danantara menurut mantan Presiden BEM Universitas Indonesia (UI) ini, adalah terobosan luar biasa dari Presiden Prabowo. “Mestinya sudah dari dulu ada inisiatif-inisiatif seperti ini. Harus ada institusi seperti Danantara utk membiayai proyek strategis nasional seperti Industrialisasi dan hilirisasi,” ungkapnya.
Tapi industrialisasi ini prosesnya lama dan panjang. Jalannya berliku dan mendaki. Tidak ada leap frogging dalam proses industrualisasi. Nah dilemanya di sini buat Danantara kalau diisi oleh orang-orang yang mindsetnya keuangan semata. Industrialisasi tidak bisa di dekati dengan cara berpikir cepat dan jalan pintas ini.
Investasi untuk industrialisasi dan hilirisasi nggak bisa berbuah manis segera.
Zul mencontohkan, Investasi smelter di Kab Sumbawa Barat, NTB misalnya oleh PT Amman sudah dimulai bertahun tahun, tapi sampai sekarang belum kelar-kelar. “Ya, karena lama memang dan nggak mudah,” kata mantan anggota DPR RI tiga periode ini.
Dikatakan, perlu ada cara berpikir lain di dalam Danantara yang mampu mengimbangi cara berpikir ala Investment Bankers sehingga investasi investasi Danantara tidak melulu semata berorientasi pada persoalan keuangan dan dimensinya jangka pendek.
Dan yang paling penting, publik harus tahu ini. Jangan gelayuti Danantara dengan harapan untuk semua investasinya bisa berbuah manis segera. Butuh waktu.
Danantara tak boleh investasi semata pada hal hal populis dan cepat. Perlu keberanian untuk investasi juga di sektor agak panjang tapi strategis.
Bukankah perjalanan panjang, selalu harus di mulai dgn langkah pertama?
Danantara dan Investasi ke UKM seperti JPS Gemilang di NTB.
Sebagai mantan gubernur NTB, Zul mencontohkan di masa COVID dulu NTB menurut BNPB adalah Provinsi terbaik yg mampu mengendalikan ekonominya di tengah wabah.
Bayangkan, di tengah bencana Nasional ada 5000 UKM baru muncul krn ada Insentif ke UKM. UKM ‘dipaksa’ memasuki ‘ INDUSTRI PENGOLAHAN’ dan pemerintah menampung dan membeli produk produk UKM-UKM tersebut. Zul yakin pelaku-pelaku UKM sydah bisa memproduksi apa saja tapi susah mencari pasar nya.
“Nah, ini baru mantap kalau Danantara punya keberanian Investasi ke UKM-UKM kita di seluruh Indonesia dan produk2 produk UKM-UKM tersebut diserap seluruhnya oleh pemerintah daerah kita,” harapnya
Zul yakin di tengah beratnya situasi ekonomi global, ekonomi Indonesia akan bangkit karena UKM akan bergerak dan hidup.
“Kalau ini berani dilakukan oleh Danantara maka kehadiran Danantara dalam menunjang Industrialisasi dan hilirisasi menemukan maknanya secara mendasar,” pungkasnya. (jar)




