Penulis: Nurhayati, S.Pd. (Guru SDN Poto, Kecamatan Moyo Hilir)
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selalu menjadi momen kompetitif. Calon siswa berebut kursi di sekolah favorit. Ini menunjukkan bahwa tidak semua sekolah memiliki daya tarik yang sama. Di samping itu, sebagian besar sekolah adalah cerminan dari kompetensi guru yang ada di dalamnya.
Beberapa sekolah memiliki citra positif sejak dulu. Para guru di sana mewarisi standar tinggi. Ini bukan hanya soal kompetensi, tetapi juga soal kepercayaan masyarakat. Nama besar sekolah menjadi daya tarik utama bagi calon siswa.
Situasi ini punya dua sisi yang kontras. Di satu sisi, ada kesenjangan fasilitas dan kualitas antar sekolah. Di sisi lain, calon siswa terdorong untuk lebih kompetitif dalam belajar. Mereka berusaha mencapai standar tertentu. Hal ini sebenarnya sangat lumrah terjadi di banyak negara.
Misalnya Korea Selatan, sistem pendidikan bersifat kompetitif. Sekolah unggulan selalu dipadati pendaftar. Ini menciptakan budaya belajar yang kuat. Namun di baliknya, ada tekanan yang tidak ringan yang mesti ditanggung.
PPDB di Indonesia mencerminkan pola yang serupa. Sekolah favorit menjadi tujuan utama. Walaupun, sekolah lain kadang harus menerima siswa yang tersisa. Padahal, semua sekolah seharusnya punya kesempatan yang sama. Demi pemerataan, periode lalu PPDB Zonasi diadakan untuk mengadakan pembatasan.
Strategi Penerimaan Murid Baru (SPMB) saat ini menawarkan konsep berbeda. Pemerintah menerapkan empat jalur utama dalam penerimaan siswa yaitu zonasi, afirmasi, perpindahan orang tua, dan prestasi. Zonasi tetap diadakan untuk pemerataan akses pendidikan dengan mendekatkan siswa ke sekolah terdekat.
Jalur afirmasi diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu/disabilitas. Perpindahan orang tua (Mutasi) mengakomodasi siswa yang mengikuti orang tua berpindah tugas. Sementara itu, jalur prestasi membuka peluang bagi siswa dengan keunggulan akademik dan non-akademik. Artinya, keinginan akan sekolah harus benar-benar dengan sebab yang rasional.
Ini sekaligus membangun perbedaan kontras dengan PPDB Zonasi sebelumnya. Dahulu banyak keinginan akan sekolah pavorit tapi terbatas oleh domisili. Berpindah sekolah pun sulit dilakukan. Meski, zonasi yang dulu dan sekarang punya substansi yang sama. Hanya saja SPMB lebih memberi ruang untuk calon siswa mengekspresikan harapannya melalui 3 jalur lain yang disediakan.
Akan tetapi, setiap jalur ini pasti memiliki tantangannya sendiri. Zonasi mengurangi dominasi sekolah favorit, tetapi tidak selalu sejalan dengan keinginan siswa dan orang tua. Jalur afirmasi masih menghadapi kendala dalam pemerataan kualitas pendidikan. Sementara itu, jalur prestasi mendorong persaingan yang sehat, tetapi tidak semua sekolah memiliki sarana untuk mengakomodasi bakat siswa secara maksimal.
Meningkatkan kompetensi guru seharusnya bisa menjadi solusi utama. Program pelatihan mesti dilakukan untuk semua sekolah. Pemerataan juga perlu dipastikan dalam hal fasilitas. Dengan begitu, setiap sekolah bisa menjadi tempat belajar yang ideal. Kompetisi pun akan menjadi lebih adil.
Kita tahu bahwa saat ini peningkatan kompetensi terus dijalankan melalui pelatihan maupun sertifikasi. Standarisasi guru dalam keharusan jenjang diploma IV atau strata satu juga ditetapkan. Walaupun, langkah ini belum betul-betul terselenggara di semua guru. Namun rasanya, setiap upaya yang memiliki output positif mestinya bisa kita apresiasi.
Lebih lanjut, SPMB telah selangkah lebih baik dari situasi sebelumnya. PPDB hanya memastikan zonasi, sementara SPMB telah mengakomodir atensi calon siswa mengenai kebutuhannya terhadap sekolah. Hanya saja saat ini kita masih akan tetap bersoal tentang kuota jumlah siswa yang diterima oleh sekolah. Begitu pula dengan persoalan letak geografis.
Tidak semua sekolah pavorit bisa diakses dengan mudah dari domisili pelajar. Tidak semua sekolah favorit mampu menampung pendaftar. Keterbatasan inilah yang menjadi sumber kompetisi yang selama ini berlangsung. Perlombaan selalu muncul didasarkan kesenjangan antar sekolah.
Tapi penulis pikir, kompetisi antar sekolah, guru, atau bahkan calon siswa sekalipun akan menjadi situasi yang baik. Ini bahkan tetap diperlukan manakala semua sekolah dibekali infratruktur yang sama dan semua pendidiknya dibekali pelatihan yang sama. Sebab, kompetisi lah yang membuat guru berinovasi. Kompetisi Lah yang membentuk kompetensi siswa dan membangun lingkungan akademik antar sesamanya.
Hal ini karena dalam tahap kemajuan, kompetisi bukan lagi soal nama besar sekolah atau fasilitas yang ada. Kompetisi adalah soal preferensi siswa terhadap pendidikan dan inovasi guru dalam menyelenggarakan pembelajaran.




