
Minggu (22/3/26) dini hari pukul 01.30 WITA. Sebagian besar masyarakat Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa sudah terlelap. Lelah seharian berlebaran. Namun di sebuah sudut kampung, Dusun Sawo, Desa Kalimango, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa. Di saat para warga mulai tidur, justru ada sesuatu yang mulai hidup. Tepatnya dari sebuah kolong rumah panggung milik Haji Ne (H.M Nur.)
Setitik api. Seorang warga sebenarnya melihat cahaya ini. Tapi tidak curiga. Mengira api tungku pemilik rumah. Akhirnya naik rumah, tidur.
Sementara titik itu lama kelamaan membesar. Pelan tapi pasti melahap apa yang ada di sekitarnya. Si jago meras mulai menabar terornya. Panasnya dan suara kayu terbakar panasnya mulai menebar. Haji Ne, yang memiliki sepasang kerbau karapan panik. Langsung mengevakuasi kerbaunya dan barang berharga lainnya.
Mungkin dia berusaha teriak. Namun teriakannya hilang ditelan malam. Panas api dengan cepat menyebar. Membangunkan para penghuni rumah. Seketika kepanikan melanda. Warga dusun berusaha menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Menjauh menyelamatkan diri.
Api terlihat seperti sudah menjangkau langit. Seperti monster yang siap melahap apapun di sekitarnya. Aparat yang mendapat laporan berusaha membantu warga. Hanya jerit tangis ibu dan anak anak memenuhi langit malam itu.
Warga dari kampung tetangga berdatangan. Berusaha membantu seadanya. Dalam keputusasaan. Mereka sebenarnya tahu. Upaya yang dilakukan adalah sia-sia. Si jago merah terlalu perkasa berkibar di langit Karang Sawo. Seakan berlari dari satu atap rumah ke atap rumah lainnya.
Satu unit mobil Pemadam Kebakaran yang standby di kecamatan Alas tidak mampu berbuat banyak. Apalagi Dusun Sawo pemukiman padat penduduk. Gang-gang hanya bisa dilewati sepeda motor. Mobil damkar hanya bisa parkir di jalan raya.
Namun tidak mengurangi perjuangan personel Damkar. Di tengah kepungan api, Komandan regu M.Solikin memimpin pasukan melokalisir api. Aliran listrik PLN masih menyala. Belum terputus. Melihat hal itu, sigap M Solikin menebas kabel listrik. Harapannya agar api tidak menjalar ke rumah rumah lainnya.
Kabel terputus. Tapi bagian yang masih dialiri listrik langsung melilit tubuhnya. Seketika tubuhnya terjengkang. Terjatuh. Tidak bergerak. Solikin syahid saat menjalan tugas. Pengorbanan almarhum menjadi simbol keberanian dan dedikasi tinggi petugas dalam melindungi masyarakat dari bencana.
Laporan pihak berwenang, api menghanguskan sedikitnya 31 rumah warga yang berada di RT 01 dan RT 02 RW 02. Para korban adalah Asis tari, Hamzah Tifa, Hamzah Naf, Haji M. Nur, Hasbulah, Ahmad Seleha, Haji Dar Ahmad, Tabrin, Masrikuling, Adi Rahma, Hamid, M. Saen, Hadijah A. Rahman, Amhad Asan, Nurhayati Remo, Samsul Rahma, M. Ali Saleha, Salma, Hendro, Doari Adam, Ardes, M. Saleh Taram, Junaidi, Iyah Haji Safar, Sakariah Haji M. Son, Atil, Ismail, dan Hasan Esah, Mawardi.
Kini para korban telah dievakuasi ke lokasi pengungsian sementara. Barang-barang yang berhasil diselamatkan tampak berserakan di sepanjang jalan desa, mencerminkan kepanikan warga saat berusaha menyelamatkan diri dan harta benda.
Hingga pukul 06.00 WITA, petugas pemadam kebakaran masih berjibaku memadamkan sisa-sisa api yang membara di puing-puing bangunan. Upaya pendinginan terus dilakukan untuk mencegah kebakaran kembali menyala.
Pihak berwenang masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kebakaran, sekaligus mendata total kerugian yang ditimbulkan.
Peristiwa ini menjadi kenangan pahit di tengah suasana pasca-Idul Fitri 1447 H yang seharusnya penuh kebahagiaan. Warga kini berharap adanya bantuan dan perhatian dari pemerintah serta berbagai pihak untuk membantu mereka bangkit dari musibah ini. (Jar)




